PkM IbM UMP Adakan Pelatihan Digital Storytelling Berbasis Profetik di Panti Asuhan Al-Maa’uun Wangon

“Cerita yang bernilai moral bukan hanya untuk didengar, namun dihidupkan dan disebarkan sebagai pedoman dan cerminan.”

Minggu, 15 Februari 2026, menjadi hari yang berbeda bagi anak-anak di Panti Asuhan Al-Maa’uun Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wangon, Banyumas, Jawa Tengah. Sejak pagi, Masjid Baiturrohman di sulap menjadi ruang pertemuan panti yang telah dipersiapkan untuk menyambut kegiatan Pelatihan Digital Storytelling Berbasis Profetisme untuk Pemberdayaan Literasi dan Sejarah. Pelatihan ini tidak sekadar menghadirkan materi tentang literasi, namun juga membawa semangat bahwa cerita dapat menjadi jalan tumbuh yang baik bagi anak-anak.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Tim Pengabdian kepada Masyarakat Ipteks bagi Masyarakat (PkM IbM) dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) yang diketuai oleh Ilham Rabbani, M.A. Acara tersebut dihadiri oleh Camat Wangon Dwiyono, M.Si., Bendahara PCM Wangon Samsuri, M.Pd., Ketua Panti Asuhan Iman Santosa, S.E., Serta pengasuh panti, Bapak Saryono dan istri, yang turut mendukung terselenggaranya kegiatan. Kak Rafli Adi Nugroho, S.S., pendongeng dari Rumah Kreatif Wadas Kelir (RKWK), turut memeriahkan kegiatan ini dengan menjadi pengisi sesi mendongeng.

Literasi Yang Relevan Dengan Zaman

Acara diawali dengan pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, serta menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Muhammadiyah. Dalam sambutannya, Ilham Rabbani menyampaikan menyampaikan bahwa literasi hari ini tidak cukup dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis saja. Anak-anak perlu dilatih untuk memahami isi bacaan, mengolahnya, lalu menyampaikannya kembali dengan cara yang kreatif. Ia juga menyoroti bahwa media sosial dan berbagai platform digital kini menjadi ruang baru yang akrab dengan keseharian anak-anak. Di era digital seperti sekarang, beragam suguhan video singkat dapat menghadirkan contoh yang baik, tetapi juga tidak sedikit yang membawa pengaruh kurang positif.

Tanpa bekal nilai moral dan kemampuan berpikir kritis, anak-anak berisiko larut sebagai konsumen pasif, bahkan berpotensi tergerus akhlaknya. Namun, apabila mereka dibimbing dengan tepat dan ditanamkan nilai-nilai kebaikan melalui cerita dan pelatihan storytelling, anak-anak akan memiliki kesadaran serta batasan dalam mengonsumsi konten digital. Lebih dari itu, mereka berpeluang tumbuh menjadi kreator yang mampu menyebarkan pesan-pesan positif melalui media sosial.

Ketua Panti Asuhan, Iman Santosa, S.E., menyambut baik kegiatan ini. Ia berharap pelatihan ini dapat meningkatkan kepercayaan diri anak-anak dalam berbicara dan menyampaikan gagasan.  Samsuri, M.Pd selaku Bendahara PCM Wangon, turut mengapresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut dan berharap sinergi antara perguruan tinggi dan panti dapat terus berlanjut. Sementara itu, Camat Wangon, Dwiyono, M.Si., menegaskan pentingnya literasi sebagai fondasi masa depan. Menurutnya, anak-anak perlu dibiasakan untuk berpikir kritis dan mampu menyampaikan gagasan dengan baik.

Belajar Melalui Cerita

Sesi mendongeng bersama Kak Rafli menjadi bagian yang paling dinanti. Dengan gaya yang komunikatif dan ekspresif, ia menyampaikan cerita tentang kemuliaan berpuasa melalui perumpamaan cerita seekor ulat yang berproses menjadi kupu-kupu. Cerita sederhana itu mengajarkan tentang kesabaran, proses, dan perubahan diri. Anak-anak mendengarkan dengan antusias. Sesekali terdengar tawa mereka ketika Kak Rafli menirukan suara dan gerakan tokoh-tokoh dalam cerita. Interaksi yang terbangun membuat mereka tidak sekadar menjadi pendengar, tetapi turut terlibat dalam imjinasi cerita. Di sinilah nilai-nilai disampaikan dan ditanamkan secara halus dan menyenangkan.

Setelah sesi mendongeng pertama, Ilham Rabbani memberikan materi tentang kenabian dan vitalitas mendongeng di era digital. sejak dahulu kisah para nabi menjadi media pendidikan moral yang efektif. Berbagai cerita nabi memiliki kekuatan untuk menyentuh hati dan membentuk karakter. Dalam konteks kekinian, menanamkan nilai-nilai moral dengan pendekatan cerita nabi tetaplah relevan, hanya saja perlu dikemas sesuai perkembangan zaman. Digital storytelling berbasis profetisme ini mampu menjadi jawaban dari tantangan tersebut.

Ruang Ekspresi dan Keberanian

Sebagai bagian dari praktik, kegiatan tidak berhenti pada mendengar. Berbagai alat menggambar dibagikan kepada anak-anak. Mereka diminta menuangkan imajinasi mereka dalam bentuk gambar. Ada yang menggambar alam, hewan, dan suasana yang menurut mereka menarik. Setelah selesai, beberapa anak diminta maju untuk menceritakan makna gambar mereka. Awalnya ada yang malu, ragu dan berbicara dengan suara pelan. Namun dukungan teman-temannya membuat mereka perlahan lebih percaya diri untuk mencoba bercerita. Momen sederhana ini menjadi latihan penting untuk berbicara di depan umum. Melalui aktivitas tersebut, anak-anak belajar menyusun cerita dari imajinasi apa yang mereka lihat dan rasakan. Mereka tidak hanya menggambar, tetapi juga mengolah pikiran menjadi sebuah narasi. Di sinilah literasi berkembang secara praktis dan kontekstual.

Menanam Harapan melalui Cerita

Menjelang siang, seluruh peserta dan tim melaksanakan salat dhuhur berjamaah, kemudian dilanjutkan dengan makan bersama. Kebersamaan tersebut menutup rangkaian kegiatan dengan suasana yang hangat. Pelatihan ini menjadi contoh bagaimana literasi mampu ditanamkan melalui pendekatan yang humanis. Anak-anak tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga pelaku aktif dalam proses belajar. Mereka diberi ruang untuk berimajinasi, berbicara, dan mengembangkan kepercayaan diri. Di tengah arus informasi yang begitu cepat, kemampuan bercerita dengan nilai menjadi bekal penting bagi generasi masa yang akan datang.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Andhika Dwi Ramadhan

Andhika Dwi Ramadhan adalah mahasiswa UMP yang berasal dari Jatibarang, Brebes, Jawa Tengah. Bisa disapa melalui Instagram @ndkadrn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *