Kenapa Pikiran Suka “Berlabuh” pada Seseorang yang Tak Bisa Dimiliki?

Terkadang pikiran kita memang suka “berlabuh” pada suatu hal tertentu, entah karena kebahagiaan, ketenangan, kerinduan, kesepian, penyesalan atau mungkin ada hal yang kita belum menemukan kata yang tepat untuk mendefinisikannya. Namun, kita benar-benar merasakan dan menyelami hal tersebut terlalu dalam daripada mencoba melarikan diri darinya. Karena ada keabstrakan tersendiri ketika kita “menetap” di sana, meskipun rasanya campur aduk dan sulit untuk dimengerti. Pikiran yang tidak mau beralih dari suatu hal, biasanya menandakan jikalau hal tersebut memiliki arti tersendiri untuk kita saat itu. Apakah ia sesuatu yang memberikan kita ketenangan, menyesakkan, atau justru sesuatu yang membuat kita banyak bertanya-tanya.

Rasanya seolah-olah ada rekaman yang terus berputar dan kita tidak bisa menghentikannya. Dunia di sekitar kita mungkin terus berjalan, tapi di dalam pikiran waktu seakan berhenti setiap kali kita mengingatnya. Ada suatu rasa yang sulit dijelaskan, bukan? Rasanya seperti menatap rembulan; sangat indah dan jelas terlihat, tapi terasa begitu jauh untuk kita jangkau. Ada ketidakberdayaan yang nyata ketika kita sadar bahwa jarak antara realita dan harapan hanya bisa dijembatani oleh sesuatu yang di luar kendali kita—sebuah keajaiban. Dan hal tersebut menempatkan kita di posisi yang sunyi. Menyimpannya sendiri di dalam memoar tentangnya, sambil perlahan menerima rasa itu sebagai bagian dari kehidupan yang tengah kita jalani.

Atau mungkin rasanya seperti berada di dua garis paralel berbeda; berada di jalur yang sama, namun sulit untuk bersinggungan. Kita berada di sini dengan segala hiruk pikuknya, dan ia ada di sana dengan hiruk pikuknya sendiri. Kita merasa harus menjadi “lebih” atau memiliki suatu “keajaiban” hanya untuk bisa masuk lebih dalam ke dalam dunianya. Dan itu adalah posisi yang cukup melelahkan, karena kita dipaksa untuk melawan kenyataan yang ada di depan mata. Ketika pikiran dan hati terkunci pada suatu hal, dunia di sekitar kita seolah kehilangan warnanya. Semua rutinitas yang kita jalani terasa seperti beban tambahan karena pikiran kita sedang tidak berada di sana. Seperti ada beban yang tidak kasat mata namun terus-menerus menekan dada, membuat setiap tarikan napas terasa berat.

Sangat melelahkan, namun seringkali terjadi di luar kendali kita. Tidak sedang berlebihan; merasakan sesak saat menghadapi realita yang tidak sejalan dengan apa yang kita harapkan memang biasa terjadi. Dan dalam kondisi yang menyesakkan itu, terkadang hal yang paling membantu adalah berhenti sejenak dan menikmatinya. Pikiran itu datang tanpa undangan, ya kan? Tidak perlu ada pemicu besar—bisa jadi hanya karena suasana yang sedikit lebih sepi, atau bahkan tanpa alasan sama sekali, lalu tiba-tiba suatu hal muncul begitu saja di kepala. Ketika ia hadir di tengah realita yang sulit, itu lebih dari cukup untuk mengubah suasana menjadi sesuatu yang sunyi.

Dan di beberapa keadaan, kita tidak ingin membicarakannya. Hanya menyimpannya di “dunia rahasia” dalam kepala kita. Sebuah dunia kecil tentang suatu hal yang hanya bisa kita temui dalam perasaan-perasaan tertentu. Memang, terkadang perasaan semacam ini seperti cuaca—dia datang, menyelimuti segalanya dengan kabut yang ia bawa, lalu perlahan memudar dan berlalu dengan sendirinya. Dan mungkin itu adalah siklus untuk bertahan; membiarkan rasa itu hadir sejenak, mengakuinya, lalu kembali melanjutkan hidup. Meskipun rasanya campur aduk, biarkan saja. Biarkan ia mengalir seperti air. Ia tidak akan hilang, ia akan menemukan tempatnya sendiri di sudut kepala.

Karena satu-satunya hal yang ingin aku lakukan hanyalah memberikan ruang baginya untuk tetap “hidup”. Meskipun hanya bayang-bayangnya. Mengingatnya bisa menjadi cara untuk memupuk suatu harapan baru dalam menjalani hidup. Karena ia punya daya magis yang aneh—rasanya seolah seluruh dunia tiba-tiba berhenti berputar, suara di sekitar menjadi senyap, dan terkunci sepenuhnya pada satu titik: ia. Ada suatu rasa yang tidak bisa dijelaskan secara logika. Aku belum memahaminya secara mendalam, tapi entah bagaimana, aku merasa seolah sudah menemukan sesuatu yang selama ini kucari.

Itulah yang membuatnya begitu sulit dilepaskan; ia seolah terpahat permanen di ingatan. Seperti menemukan sebuah buku dengan sampul yang begitu indah dan memikat, namun aku tahu buku itu ada di rak yang terlalu tinggi untuk digapai. Hanya bisa mengagumi keindahannya dari jauh, sambil terus membayangkan isi ceritanya. Meskipun kata-kata justru terasa terlalu sempit untuk membayangkan isi ceritanya. Bagaimana dia berdiri, bagaimana dia bicara, atau sekadar bagaimana keberadaannya bisa mengubah suasana dalam sekejap.

Aku tidak ingin memahami teorinya, itu terlalu rumit untuk aku tahu bahwa apa yang aku rasakan itu nyata. Namun terasa sulit untukku gapai. Aku lebih memilih menyimpannya di salah satu sudut kepala sebagai bentuk apresiasi yang tulus. Aku mengaguminya namun aku juga menyadari tidak harus memilikinya, meski tentu saja, keinginan untuk mendekat itu selalu ada. Aku ingin menjadikannya tempat untukku pulang. Aku ingin membangun dunia bersamanya—dunia di mana kami bisa saling bercerita tentang hal-hal kecil yang tidaklah penting hingga mimpi-mimpi besar yang paling rahasia. Menjadi saksi dari setiap tawa dan helaan napasnya. Aamiin.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Tiko Rizqi

Tiko Rizqi,seorang pria yang bercita-cita bisa baca dan memahami apa yang dibaca. Bisa disapa lewat kolom komentar di tulisannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *