Para korban selamat dipindahkan ke area terbuka di RS Siloam Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, sejak Sabtu (15/08).
Tayang: 15 Agustus 2026 20.50 WIB
Update: 16 Agustus 2026 09.50 WIB
Guncangan tektonik berskala 7,7 magnitudo yang melanda kawasan Nusa Tenggara Timur pada Sabtu (15/08) mencatatkan 47 jiwa meninggal dunia beserta belasan orang cedera. Sebanyak 5000 orang mengungsi.
Angka kejadian tersebut merupakan rekapitulasi awal dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sampai pukul 00.00 WIB, Minggu (16/08).
Sebaran lokasi korban meninggal tersebut berada di wilayah:
- Kabupaten Sikka : 4 jiwa
- Kabupaten Manggarai : 23 jiwa
- Manggarai Timur: 17 jiwa
- Ende: 1 jiwa
- Manggarai Barat: 1 jiwa
- Nagekeo: 1 jiwa
Dilansir dari bbc Indonesia, jumlah korban meninggal akibat gempa diprediksi akan terus bertambah. Apalagi, terdapat 341 kali gempa susulan terjadi dengan magnitudo 3,7 sampai 6,2 hingga Minggu (16/08) dini hari.
Selain korban meninggal dunia, sekitar 5.000 orang mengungsi akibat gempa.
Berdasarkan pemutakhiran data per Minggu (16/8) pukul 00:00 WIB, konsentrasi pengungsi terbesar di NTT saat ini terpantau di Kabupaten Sikka dengan total 3.356 jiwa.
Sedangkan di Kabupaten Manggarai, jumlah pengungsi mencapai total 2.078 jiwa.
Ratusan pengungsi lainnya juga dilaporkan bertahan di Nagekeo sebanyak 500 jiwa.
Pihak BNPB mengonfirmasi ada lima keluarga terdampak serta kurang lebih 2.000 penduduk Kabupaten Nagekeo mengungsi atau mengevakuasi diri secara mandiri. Mayoritas masyarakat berinisiatif mengungsi lantaran kuatnya getaran dan sempat beredarnya peringatan dini tsunami usai guncangan utama. Sementara di wilayah Kota Bima, tercatat satu kepala keluarga atau enam jiwa ikut terdampak.
Di samping korban jiwa, BNPB menyebutkan terdapat akses jalan yang tertimbun longsor, puluhan rumah warga rusak ringan sampai berat. BNPB turut mengabarkan bahwa banyak bangunan puskesmas yang mengalami kerusakan. “Selanjutnya untuk sektor penerbangan dari Kemenhub, ada lima bandara terdampak, namun bukan pada runway [landasan pacu], melainkan di area terminal. Kemudian pelabuhan yang terdampak yakni dua pelabuhan Reo di Manggarai serta Maumere,” papar Kepala BNPB Suharyanto.
Daftar kerusakan sementara yang berhasil terdata BNPB mencakup:
- 54 unit rumah rusak berat
- Sembilan unit rumah rusak sedang
- 11 unit rumah rusak ringan
- Lima sarana kesehatan dan satu sarana pendidikan rusak
Satu gudang Bulog, tiga tempat ibadah serta enam kantor pemerintahan ikut terdampak BNPB mengonfirmasi bahwa Kabupaten Manggarai merupakan salah satu daerah dengan tingkat kerusakan terbilang besar. “Terdata 29 unit rumah rusak berat, sembilan rumah rusak sedang dan sembilan rumah rusak ringan.
Selain itu, lima sarana kesehatan dan satu sarana pendidikan turut mengalami kerusakan. Sedangkan di wilayah Manggarai Timur terdata 23 unit rumah rusak berat,” jelas Berton. Daerah yang terkonfirmasi merasakan guncangan di antaranya:
- Kabupaten Nagekeo, Sikka dan Manggarai Barat di NTT;
- Kota Bima serta Kabupaten Bima di Nusa Tenggara Barat;
Kabupaten Jeneponto, Kepulauan Selayar dan Maros di Sulawesi Selatan. Di kawasan Kabupaten Nagekeo, kata Berton, petugas terus melakukan penanganan di lapangan, di mana akses jalan dilaporkan mengalami kemacetan serta jaringan listrik masih padam.
Waspada tsunami
BMKG sempat mengeluarkan sinyal peringatan tsunami terkait musibah ini, namun ancaman tersebut dinyatakan telah usai. Di berbagai titik air laut pasang sempat teramati.
Di wilayah Bakalang, Alor, NTT, air naik setinggi 0,14 meter pada 05:41 WIB. Pada area Dompu, NTB, gelombang tercatat 0,17 meter. Selanjutnya di Flores Timur, Labuan Bajo, dan Sikka kenaikan air berkisar antara 0,19 sampai 0,36 meter.
Sementara di Maurole, Ende, NTT gelombang laut mencapai hampir satu meter pada jam 05:27 WIB. Bukan hanya itu, BMKG pun membagikan peringatan status siaga hingga waspada tsunami di sejumlah titik NTT, NTB dan Sulawesi Selatan, dengan perkiraan tinggi 0,5 sampai tiga meter. Guna mengantisipasi risiko, BMKG menerbitkan imbauan “evakuasi total” kepada pemerintah daerah pada kawasan terdampak.
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menyatakan pihak Istana sudah berkoordinasi bersama jajaran terkait untuk menjamin kesiapsiagaan seluruh aparat dalam merespons kondisi awal pascaguncangan di NTT. “Sejak tadi pagi saya telah berkoordinasi dengan Menko PMK, Kabasarnas, BMKG, BNPB, serta Gubernur NTT demi memastikan perhatian dan kesiapsiagaan semua pihak pada fase-fase awal bencana ini,” ungkap Mensesneg Prasetyo Hadi, Sabtu (15/08).
Sebelumnya, Wakil Bupati Sikka, NTT, Simon Subandi Supriadi mengabarkan adanya dua orang tewas akibat tertimpa puing bangunan di area Pelabuhan Laurentius Say. “Korban pertama seorang ibu hendak pergi ke Kupang. Ia tertimpa reruntuhan lalu meninggal. Korban lainnya seorang bapak pasien dari Adonara yang hendak pulang melalui pelabuhan,” jelas Simon.
Simon menuturkan tingkat kerusakan paling parah sementara ini yang terdata berada di kawasan Pelabuhan Laurentius Say. “Untuk sarana publik, sementara belum ada laporan kerusakan skala berat. Tadi saya mengecek di rumah sakit, para pasien dipindahkan ke area luar.” “Serta saat ini tengah dilaksanakan pendirian tenda darurat oleh BPBD bersama dinas sosial,” tambah Simon.
Tim SAR Gabungan dari pilar Basarnas, TNI dan Polri melaporkan telah menyelamatkan tiga warga terdampak bencana di Maumere. “Kami mendapat informasi saat gempa terjadi, struktur bangunan di Pelabuhan Lauren Say Maumere-Sikka roboh lalu menimpa korban bernama Meliana Nenong, wanita berusia 54 tahun yang ditemukan meninggal dunia,” ungkap Fathur Rahman, Kepala Kantor SAR Maumere. “Sementara dua warga luka-luka dan ketiganya langsung dipindahkan Tim SAR Gabungan menuju RSUD T.C Hillers Maumere.” Di samping itu, Fathur menjelaskan, Tim SAR Gabungan dari Kantor SAR Maumere telah bergerak menuju lokasi kejadian di Kabupaten Nagekeo serta daerah terdampak lainnya. “Mengenai pendataan seluruh korban saat ini terus dikoordinasikan dengan BPBD setempat,” pungkas Fathur.
Masyarakat berlarian keluar rumah Wartawan BBC Indonesia di wilayah Sikka, Arnold Welianto, menceritakan gempa dengan getaran dahsyat itu terjadi pada waktu pagi. “Saya kaget lalu terbangun, seketika berlari ke kamar anak, langsung menarik anak keluar rumah, sementara istri menyusul di belakang. Tempat tinggal kami di tepi pantai,” tutur Arnold.
Di luar bangunan, Arnold menyaksikan banyak warga lain berebut lari menuju perbukitan serta memadati area jalan raya. “Sebab usai guncangan hebat itu masih timbul gempa susulan dan permukaan air laut sempat surut cukup lama,” kata Arnold. Ia juga melihat para pasien puskesmas dipindahkan ke luar ruangan serta proses belajar mengajar di sekolah ditutup sementara.
Pada wilayah Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), sejumlah penduduk turut dilaporkan ramai-ramai menuju kawasan perbukitan guna mencari tempat aman usai guncangan melanda kawasan tersebut. Melalui laporan wartawan Kompas.com di tempat kejadian, beberapa warga mengungsi menuju dataran tinggi akibat khawatir muncul gempa susulan serta potensi naiknya air laut. “Saya pun ikut mengungsi bersama penduduk di perbukitan Kelurahan Watu Nggene, guna menghindari gempa susulan dan potensi air naik,” catat wartawan Kompas.com dari lokasi.
Beberapa titik kerusakan turut dilaporkan, salah satunya meliputi bangunan fasilitas kampus Universitas Katolik Indonesia (Unika) Ruteng. Di kawasan Kota Mataram, NTB, para warga yang tengah beraktivitas seketika berlarian menuju tengah jalan raya. “Gempa ini sangat mengejutkan karena terjadi sewaktu jam sibuk mempersiapkan anak berangkat sekolah,” kata seorang warga bernama Veronika ketika ditemui di Mataram, NTB, Sabtu. Ia menyebut getaran terasa bagai diayunkan serta terjadi cukup lama, hingga membuat kepala terasa pusing layaknya mabuk pascapenerbangan dengan pesawat. “Tadi saat masih tidur mendadak semua barang di kamar bergetar, rupanya ada gempa bumi. Semoga tidak terjadi musibah buruk pada pusat gempa,” ujar Adam, warga asal Lombok lainnya.
Apa pemicu gempa tersebut?
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama, menerangkan bahwasanya pemicu gempa tersebut berhubungan dengan pergerakan sesar aktif di sisi utara Pulau Flores. Menurut penjelasan Arief, pergerakan sesar serupa pernah memicu bencana gempa bumi pada tahun 1992 silam. “Memang ada keberadaan sesar aktif pada sepanjang sisi utara Pulau Flores. Sama seperti kejadian tahun 1992. Maka penyebabnya yaitu aktivitas sesar di utara Pulau Flores,” jelas Arief.
Selanjutnya, Arief mengimbau warga mematuhi instruksi untuk menjauhi area pesisir pantai sementara waktu. “Namun untuk saat ini masyarakat diminta tetap tidak mendekati kawasan pantai,” ucapnya. Pihak BMKG telah mencabut status peringatan tsunami usai bencana gempa magnitudo 7,7 menghentak kawasan NTT. “Pencabutan status telah diumumkan,” jelas Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, dalam sesi konferensi pers virtual. Kendati status tsunami sudah diakhiri, BMKG tetap memantau pergerakan air laut serta potensi gempa susulan di seputar kawasan terdampak. BNPB turut mengimbau penduduk agar senantiasa waspada terhadap risiko gempa susulan serta tidak mengasuh atau memasuki bangunan yang retak maupun rusak akibat bencana.
Berita ini diolah dari Antara, Kompas dan BBC Indonesia/Arnold Welianto, dari Kabupaten Sikka, NTT



