Menambang Cerita dari Wlahar dan Sungai yang Menghidupi

Alam dan manusia adalah objek yang sukar untuk dipisahkan, mereka saling memanfaatkan lewat naluri yang terhubung selama puluhan hingga ratusan tahun. Hubungan itu mengakar dalam kebiasaan dan bernafas dalam keseharian. Mereka tumbuh bersama angin yang mengajarkan arah. Namun ironinya sebuah simbiosis yang tak selalu tampak menyelinap di antara aktivitas mereka.

Seperti namanya, Banyumas adalah kabupaten yang kaya sumber daya alamnya. Sebuah daerah yang diambil dari nama benda cair (banyu). Tentu saja air melimpah di sana, menghidupi kian banyak keluarga. Dalam pengambilan nama Banyumas ada versi yang bercerita tentang kisah kayumas, sebuah kayu besar yang hanyut di Sungai Serayu dan ditemukan di lokasi pembangunan pusat pemerintahan, sehingga kemudian disebut Banyumas (air kayu mas). Dalam cerita itu Sungai Serayu ikut andil dalam pembentukan nama Banyumas, ia menjadi latar paling penting dalam cerita dan sejarah Kabupaten Banyumas. Bagaimana jadinya jika Sungai Serayu tidak melintas di antara Kabupaten Banyumas?

Dari cerita panjang antara manusia dan alam itu, mengalirlah Sungai Serayu, sebuah saksi yang mencatat bagaimana kehidupan tumbuh dan berubah. Sungai Serayu bukanlah aliran sungai biasa, ia menghidupi desa-desa yang dilintasinya juga menjadi mata pencaharian utama bagi sebagian warga, terutama di Desa Wlahar Kulon Kabupaten Banyumas.

Aktivitas yang biasa dilakukan warga Desa Wlahar sebagai mata pencaharian adalah tambang pasir, setiap harinya sekitar 100 pekerja tambang pasir beroperasi, menyedot pasir yang terendap di dasar sungai.

Dari hiruk pikuk penambangan, sekilas kelihatan seperti aktivitas biasa, tapi di balik itu sebenarnya jadi dilema. Pasir memang dibutuhkan untuk bahan bangunan, infrastruktur, dan kebutuhan ekonomi masyarakat. Tapi di sisi lain, sungai yang terus-menerus dikeruk bisa kehilangan keseimbangannya. Aliran air makin deras, dan ekosistem airnya rusak. Kalau aktivitas ini tidak dikontrol dan penambangan terus dilakukan bisa saja yang dulu jadi sumber hidup, lama-lama malah bisa bikin hidup susah.

Penambangan ini sudah berjalan cukup lama, bahkan sejak tahun 1984. Mayoritas penduduk Desa Wlahar Kulon bergantung pada pekerjaan tambang pasir ini. Jadi buat warga, tambang pasir bukan hal baru, tapi bagian dari kehidupan mereka sehari-hari, di situlah muncul benturan. Warga butuh kerja dan penghasilan, tapi kalau lingkungan rusak, pekerjaan itu juga gak bakal bertahan lagi.

Sungai Serayu bukan cuma tempat cari pasir atau sumber air, tapi juga bagian dari identitas masyarakat Wlahar Kulon. Sejak dulu, warga hidup berdampingan dengan sungai, menanam buah dan sayur di tepiannya, mandi, mencuci, bahkan kadang jadi tempat bermain anak-anak.

Dulu, para warga dan anak-anak mencari pasir dengan cara menyelam ke dasar sungai dan mengambilnya secara manual menggunakan sekop ataupun ember. Namun sekarang hal itu sudah tidak mungkin dilakukan sebab kedalaman sungai kian bertambah. Kejadian seperti tanah longsor akibat penyedotan pasir menggunakan alat sudah menjadi hal yang lumrah bagi warga Desa Wlahar. Nah, waktu tambang makin besar dan wilayahnya makin luas, kehidupan sosial di sekitar sungai juga ikut berubah. Hampir 70% warga Desa Wlahar Kulon bergantung pada hasil tambang pasir di Sungai Serayu. Ketika musim penghujan tiba, aktivitas penambangan harus berhenti sejenak dan para pekerja tambang harus mulai mencari pekerjaan lain sampai kiranya cuaca kembali stabil dan pasir sudah kembali menumpuk.

Seperti mencari kualitas air yang layak untuk diminum, aktivitas penambangan pasir juga demikian, pekerja tambang pasir harus memilah dan mengadu nasib pada alam sebab tidak selalu pasir yang diambil memiliki kualitas yang baik. Pasir pun memiliki kategori yang berbeda tergantung kebutuhan bangunan. Pasir yang digunakan untuk plesteran dinding berbeda dengan pasir yang digunakan untuk pondasi bangunan. Terkadang, pasir yang diangkut bercampur dengan tanah dan tentu itu bukanlah yang diinginkan para pekerja.

Banyak warga mungkin belum sepenuhnya tahu soal aturan tambang, izin, dan dampak ekologinya. Padahal, undang-undang tambang di Indonesia jelas ngatur soal sanksi buat penambangan ilegal. Selain itu, kalau masyarakat tahu bahwa sungai bukan cuma tempat cari nafkah, tapi juga ekosistem yang hidup, mereka bisa lebih bijak dalam mengelola sumber dayanya. Misalnya, bikin sistem tambang bergilir atau membatasi wilayah pengerukan. Konflik sosial sempat terjadi ketika tepian sungai longsor dan merugikan salah satu warga, namun hal tersebut dapat diselesaikan secara baik dan damai.

Kondisi ini tidak banyak diketahui. Warga yang sudah bertahun-tahun tinggal dan memiliki keturunan pasti akan memilih bekerja di tambang pasir, hal tersebut menjadi seperti semacam kondisi di mana ayahmu memiliki perusahaan sukses dan kamu sebagai anaknya disuruh untuk melanjutkan perusahaan itu. Terlebih kondisi Indonesia yang semakin sulit mencari lapangan pekerjaan. Hal ini menjadi kompleks jika dibicarakan.

Kasus tambang pasir di Wlahar Kulon sebenarnya bukan hal sepele. Ini contoh kecil dari persoalan besar yang terjadi di banyak daerah. Ekonomi yang kian mendesak dan alam yang mulai menjerit. Semua ini saling berkaitan.

Solusinya gak bisa instan, tapi bisa dimulai dari hal kecil. Pemerintah perlu tegas mengatur tambang dan memberi ruang buat masyarakat ikut mengelola. Warga juga perlu diberi akses informasi dan edukasi supaya paham dampak jangka panjang. Sekolah, komunitas, dan media lokal bisa jadi tempat tumbuhnya literasi ekologis dan budaya yang lebih kuat.

Sungai Serayu sudah jadi saksi hidup bagaimana manusia berinteraksi dengan alam. Kini tinggal bagaimana kita, lewat pengetahuan dan kesadaran, bisa menjaga agar hubungan itu gak berubah jadi cerita sedih di masa depan. Karena menjaga sungai bukan cuma soal alam, tapi soal menjaga rumah, budaya, dan masa depan bersama.

Sumber informasi:
Irham, Faliq “Menambang Cerita Dari Sungai Yang Menghidupi”. Hasil wawancara pribadi: 26 Oktober 2025, Universitas Jenderal Soedirman
Satelit TV “Tambang Pasir di Wlahar Hidupi Warga Setempat Sejak Tahun 84”.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Faliq Irham Hijran

Faliq Irham Hijran, lahir di Bogor tahun 2003. Ia adalah Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Jenderal Soedirman. Hobi bermusik juga kegiatan alam. Sapa saja di Instagram @faliq.irham

One thought on “Menambang Cerita dari Wlahar dan Sungai yang Menghidupi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *