Sinterklaas Naik Scoopy dan Bukan Menyambut Natal

. . . Simpang Lima Sruweng, 24 Desember 2025. Tidak sempat saling tukar kartu nama, tidak juga saling memanggil dengan terangnya jabatan. Yang sangat jelas adalah “Sorry ya, bro,” celetuk saya saat keluar dari parkiran RS PKU Sruweng. Langsung disahut dengan “Aman bro, searah juga.”

***

Mas Fajrul yang siang itu tiba-tiba menelepon saya tetapi tidak terangkat. Dalam benak saya, ketika daftar kontak HP saya yang terbiasa cukup chat via WhatsApp, tapi ini tumben menelepon, “Ini ada apa ya? Ndak biasanya siang-siang menelepon? Ada urgent-kah?”. Langsung saya telepon balik, “Assalamualaikum, mas? Pripun? Ada perlu penting? Saya lagi di SMAN Kutowinangun ini, sedang dealing video profil.” 

“Tanggal 23 Desember udah ada agenda belum? Tanggal 23 sore diundang kumpul penulis bilfest.id yang dari Kebumen, sama minta saran di mana tempat yang cocok?”, ucap Mas Fajrul dari ujung telpon.

Sebagai tukang foto keliling saat ditanya agenda, saya dengan spontan buka Google Kalender karena sudah lengkap dengan keterangan kegiatan saya. Di tanggal 23 dan 24 Desember tidak ada jadwal foto; seperti rutinitas biasanya, saya gunakan ngedit dan beres-beres rumah.

Tapi memang jenenge menungso iki mung iso upoyo, iso rencono, tapi realita bergantung marang Gusti Kang Moho Kerso. Malam 23 Desember, saya ditelpon oleh Pak Indri (Bos Kakung saya di toko bangunan) bahwa jam 9 pagi supaya menemani Pak Bos kontrol di RSUD Kebumen. Ini jadwal kontrol kedua setelah jempol kakinya diamputasi karena sakit gula (Diabetes Mellitus). Ndak mungkin saya nolak, karena termasuk tugas prioritas. Jadi rencana ngedit menjadi keliling di dalam RSUD Kebumen.

Menindaklanjuti undangan dari bilfest.id yang tertera jam 14.00, saya selesai dari RSUD jam 14.30. Menuju tempat kumpul di tempat yang sesuai usul saya, yaitu Angkringan Mukti, jam 3 sore. Itulah, lagi-lagi menungsa mung isa rencana.

***

Tanggal 24 Desember 2025, saya sudah berencana ke Brebes untuk jemput istri beserta bujang di Ndalem Mbah Brebes; selain orang tua amatir yang mudah kangen, juga mumpung ora ana agenda foto. Tapi malam 24 Desember saya ditelpon oleh Mas Hasan -yang punya Hasta Multimedia, Hasta Komputer, dan Hasta Creative Media- bahwa jam pagi supaya ngonten khitan massal di masjid dekat kantor Mas Hasan, dan jam 6 harus sudah di tempat. Permintaan itu tidak saya tolak, karena lumayan ini buat tambah beli tiket. Jadi, selesai midio khitan massal, saya langsung dibayar oleh Mas Hasan dan langsung untuk beli tiket sepur yang jadwalnya sore di tanggal 24 Desember.

Sebelum berangkat ke Tapsiun—orang tua zaman dulu untuk menyebut Stasiun Kereta Api—saya mengisi dengan beres-beres rumah dan nyuci pakaian kerja—yang jelas karena mau pergi, bekas keringet biar gak njamur. Dan pikir saya, ya longgar karena keberangkatan pukul 16.21 dari Stasiun Gombong, naik Kereta Ranggajati jurusan Jakarta.

Saya siapkan laptop untuk ngedit video khitan massal yang take paginya, kemudian saya bawa juga brownies Amanda dikasih sama Mas Faif Riandi—yang rencana tanggal 28 Desember lamaran. Semoga lancar, Pak Faif. 

Pukul 15.28 saya dari rumah dan perhitungan dengan kebiasaan saya sampai Gombong itu setengah jam. Tapi ini tidak. Sampai Soka baru Kewayuhan motor kaya nggak beres—Mio merah buat andalan dinas—ndat-ndet, saya masih lanjut coba tarik gas, kok malah tambah alon.

***

Di Simpang Lima Sruweng yang ngepasi lampu merah, saya memposisikan di barisan paling depan. Samping kiri saya mas-mas dengan scoopy anyar dengan helm capung hadiah motor. “Mas, njenengan arah ngulon ora? Tekan Gombong ora?”

“Iya mas, tekan Gombong,” jawab dia dengan tanpa curiga akan dibegal.

“Aku numpang ya mas, motorku tek parkirna nang PKU Sruweng.”

“Ya mas, oke,” njawabe kaya wis biasa ketemu.

Saya memimpin rute sampai PKU Sruweng. Masuk parkiran, saya parkir di barisan paling depan -sambil penasaran, apa oline sat ya, apa fanbele rusak maning ya, wislah gampang ngesuk. Mas-mas scoopy dengan motor sudah menghadap jalan raya. Langsung saya naik ke motornya sambil bilang, “sorry ya bro…”.

“Ora papa mas aman”.

Monggo sak bantere jenengan, aku lagi mburu kereta”—tapi saya ndak menyebut kereta berangkat jam berapa, ya ndak enak juga. Juga paham nek wis ngomong banter berarti saya sedang tergesa-gesa.

Sampai barat rel Karanganyar mulai berjatuhan cairan dari langit, dan memandang arah barat awan sudah gelap kelabu. Benar, sampai Alang-Alang Amba hujan sangat deras dan jarak pandang sangat terbatas. Kami pun berjalan sangat pelan.

Ya betul, sesuai prasangka kalian. Saya telat 3 menit; kereta berangkat pukul 16.21, tapi saya sampai Tapsiun Gombong pukul 16.24. Saya memastikan ke loket dan menanyakan Ranggajati sudah berangkat atau belum. “Baru saja mas, lain kali jangan mepet mas berangkatnya.”

Saya jawab dalam hati, “Ya jane ora mepet banget bos, ora ngerti arep ana kendala.”

“Oh iya mas, minta tolong jadwal yang ke Ketanggungan sore ini.”

“Ada mas, ini Kutojaya Utara tinggal yang executive dengan harga 390.000.”

Saya telpon istri, cerita bahwa telat, dan tinggal satu kereta harganya sekian. Kalau hari ini ditunda lagi ke Brebes, untuk bisa menyempatkan lagi, masa di tahun depan?

***

Saya konsisten dengan keputusan saya, bahwa tanggal 24 Desember ke Brebes apa pun yang terjadi. Terus saya minta tolong Bos Farhan Hamid -bos saya di amonesia.photo– untuk membelikan tiket supaya tetap bisa pergi ke Brebes. 

Saya harus memaafkan diri saya dan harus merefleksikan tentang hal yang telah terjadi. Bahwa sebelum tanggal 25 Desember yang menjadi penantian kumpul keluarga saat di tanggal 23 dan 24 banyak hal dilalui dan yang menjadi pelajaran. Salah satunya dari Sang Khaliq Yang Maha Kuasa, saya dikirimkan “sinterklaas” memakai scoopy tak kenal nama tapi saling menyapa, dalam teriakan saat hujan bahwa beliau pemuda kerja di Kantor Pegadaian Kutowinangun yang sedang dalam perjalanan pulang ke Desa Klopogodo, Kec. Gombong. 

Tansah Rahayu untuk mas-mas scoopy.

***

Tulisan ini saya buat saat di dalam kereta Kutojaya Utara menuju Ketanggungan. Hasrat saya menulis cerita ini karena mas-mas pramuniaga yang memakai topi sinterklaas. Yang bahwa dalam cerita sinterklaas itu makhluk pembawa “hadiah” untuk manusia-manusia di bumi.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Anton Sugandi

Anton Sugandi, memaksakan di panggil Mas Andi. Bapak muda dengan keluarga kecilnya. Setiap hari dengan aktifitas sebagai buruh harian lepas, mau disuruh ini-itu. Dan ingin menuangkan bisik kepala lewat huruf yang berjajar. Bisa disapa via Ig @andibrs_24

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *