Jawaban Mengapa Operasi Osama bin Laden lebih Sulit daripada Ali Khamenei dan Saddam Hussein

Dalam arena politik internasional, targeted killing—atau pembunuhan terpilih—telah menjadi alat favorit Amerika Serikat untuk menyingkirkan musuh-musuhnya sejak akhir Perang Dingin. Prinsip umum di balik operasi semacam ini adalah asumsi bahwa menghilangkan pemimpin kunci akan melemahkan rezim atau jaringan teroris, membawa stabilitas, dan melindungi kepentingan nasional AS. Namun, realitasnya sering kali bertolak belakang: operasi ini justru memicu kekacauan regional, memperburuk konflik sektarian, dan menimbulkan pertanyaan etis tentang kedaulatan negara serta hak asasi manusia. Mari kita turunkan analisis spesifik: mengapa operasi pembunuhan Osama bin Laden pada 2011 jauh lebih sulit daripada kasus Saddam Hussein pada 2003-2006 atau pembunuhan hipotetis Ali Khamenei seperti yang digambarkan dalam skenario baru-baru ini? Jawabannya terletak pada perbedaan struktural: bin Laden adalah target non-negara yang licin, sementara Saddam dan Khamenei adalah pemimpin negara dengan struktur kekuasaan yang lebih terbuka untuk intervensi langsung.

Mari kita mulai dengan operasi Neptune Spear, pembunuhan bin Laden di Abbottabad, Pakistan, pada 2 Mei 2011. Operasi ini mencontohkan kesulitan ekstrem yang dihadapi AS ketika menargetkan aktor non-negara dalam jaringan teroris transnasional. Bin Laden bukanlah presiden atau ayatollah yang duduk di istana resmi; ia adalah pemimpin al-Qaeda yang bersembunyi selama hampir satu dekade pasca-9/11, memanfaatkan jaringan rahasia dan dukungan implisit dari elemen-elemen dalam intelijen Pakistan (ISI). CIA membutuhkan bertahun-tahun untuk melacaknya, dimulai dari pengawasan kurirnya, Abu Ahmed al-Kuwaiti, hingga pembangunan replika compound di AS untuk latihan. Helikopter stealth Black Hawk digunakan untuk menghindari radar Pakistan, tapi bahkan itu gagal: satu helikopter jatuh karena faktor teknis seperti suhu tinggi dan dinding beton yang memperburuk downwash rotor. Risiko diplomatiknya luar biasa—AS melanggar kedaulatan Pakistan tanpa pemberitahuan, memicu kemarahan Islamabad dan mempersulit hubungan bilateral untuk bertahun-tahun. McRaven, komandan operasi, harus mengelola ketegangan real-time, termasuk kemungkinan konfrontasi dengan jet F-16 Pakistan. Selain itu, bin Laden dikelilingi oleh keluarga dan pengawal yang siap mati, memaksa SEAL Team 6 untuk beroperasi dalam kegelapan total, dengan ancaman IED atau serangan balik. Operasi ini memakan biaya miliaran dolar dalam intelijen dan teknologi, belum lagi korban jiwa potensial—beberapa SEAL bahkan menulis surat wasiat sebelum berangkat. Kritikus seperti saya melihat ini sebagai bukti kegagalan AS: meski bin Laden mati, al-Qaeda berevolusi menjadi ISIS dan afiliasinya, membuktikan bahwa membunuh satu orang tidak menghancurkan ideologi.

Bandingkan dengan penangkapan dan eksekusi Saddam Hussein, yang terjadi dalam konteks invasi penuh Irak pada 2003. Di sini, kesulitannya lebih rendah karena AS tidak berurusan dengan target yang bersembunyi, melainkan pemimpin negara yang posisinya sudah diketahui secara umum. Saddam ditangkap pada Desember 2003 selama Operation Red Dawn, hanya sembilan bulan setelah invasi dimulai, di sebuah bunker bawah tanah dekat Tikrit. Ini bukan operasi rahasia; ini bagian dari kampanye militer besar-besaran yang melibatkan ratusan ribu pasukan koalisi, didukung oleh superioritas udara dan intelijen. AS menggunakan daftar “most wanted” berbentuk kartu remi, dengan Saddam sebagai ace of spades, dan memanfaatkan informasi dari informan lokal. Tidak ada kebutuhan helikopter stealth atau infiltrasi malam hari yang rumit—pasukan AS hanya menggali bunker dan menariknya keluar. Proses selanjutnya, sidang oleh Iraqi Special Tribunal pada 2005-2006, berujung pada eksekusi gantung pada 30 Desember 2006, juga relatif langsung meski penuh kontroversi seperti taunt dari saksi dan video bocor. Namun, kritik saya terhadap AS di sini adalah pada implikasi jangka panjang: invasi didasarkan pada tuduhan palsu tentang senjata pemusnah massal, memicu kekacauan sektarian yang membunuh ratusan ribu warga Irak, memunculkan ISIS, dan menciptakan vakum kekuasaan yang diisi oleh Iran. Saddam adalah target “mudah” karena AS menginvasi negaranya secara keseluruhan, tapi ini justru menunjukkan arogansi imperialis—menggulingkan rezim tanpa rencana pasca-invasi, meninggalkan Irak dalam konflik abadi dan jutaan pengungsi.

Sekarang, pertimbangkan skenario hipotetis pembunuhan Ali Khamenei, seperti yang digambarkan dalam laporan baru-baru ini tentang serangan Israel-AS pada 2020-an. Dalam narasi ini, Khamenei dibunuh pada Sabtu pagi di compound-nya di Tehran, bersama lima pejabat senior, melalui serangan udara siang hari yang melibatkan bom dan cyberattack. Kesulitannya tampak lebih rendah lagi dibandingkan bin Laden: Khamenei adalah pemimpin negara dengan rutinitas yang dapat dipantau, meski reclusif dan dilindungi bunker dalam. CIA melacaknya selama berbulan-bulan melalui intelijen manusia, sinyal, dan satelit, memanfaatkan pertemuan Sabtu pagi selama Ramadan dan Shabbat untuk mengejutkan. Israel, dengan dukungan AS dan bahkan Saudi Arabia, melancarkan serangan langsung, menghancurkan gedung dengan shrapnel dan mengonfirmasi kematian melalui foto mayat. Tidak ada infiltrasi darat yang rumit; ini operasi udara dan cyber, termasuk hack app doa untuk mendorong defeksi militer. Risiko diplomatik ada—janji balas dendam dari Iran—tapi AS bisa mengandalkan aliansi regional seperti dengan MBS Saudi, yang mendorong serangan untuk melemahkan pengaruh Iran. Kritik saya di sini tajam: operasi semacam ini, jika nyata, akan memperburuk ketegangan Timur Tengah, memicu perang proxy, dan membuktikan bahwa AS sering bertindak sebagai “polisi dunia” tanpa akuntabilitas, mengabaikan kedaulatan Iran dan memicu siklus kekerasan. Khamenei “mudah” karena posisinya statis sebagai Supreme Leader, tapi pembunuhannya hipotetis ini justru menyoroti hipokrasi AS—mengklaim keadilan sambil menciptakan kekosongan yang bisa diisi oleh hardliner IRGC, mirip dengan kegagalan pasca-Saddam.

Dari prinsip umum ke spesifik, jelas mengapa bin Laden lebih sulit: ia mewakili ancaman asimetris, tanpa negara untuk diinvasi atau compound resmi untuk dibom. Operasi memerlukan presisi intelijen bertahun-tahun, teknologi canggih, dan risiko geopolitik tinggi, sementara Saddam dan Khamenei adalah target negara yang bisa diatasi melalui invasi atau serangan udara. Analisis tambahan mendukung ini: data dari DNI menunjukkan bahwa pasca-9/11, AS menghabiskan $70 miliar untuk intelijen melawan al-Qaeda, jauh lebih banyak daripada biaya tangkap Saddam ($100 miliar untuk seluruh invasi Irak, tapi operasi spesifiknya murah). Untuk Khamenei hipotetis, biaya lebih rendah karena dukungan Israel dan cybertools. Secara kritis, operasi AS ini sering gagal membawa stabilitas: bin Laden mati tapi jihadisme menyebar; Saddam hilang tapi Irak rusak; Khamenei hipotetis mati bisa memicu perang nuklir. Sebagai jurnalis, saya menyerukan akuntabilitas—AS harus berhenti targeted killing dan fokus pada diplomasi, karena sejarah membuktikan bahwa kekerasan hanya melahirkan lebih banyak kekerasan.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Rulian Haryadi

Rulian Haryadi, lahir di Lebak tahun 1995, merupakan penulis dan desainer grafis asal Kota Serang. Saat ini ia aktif sebagai kurator seni dan editor di Boomboxzine. Salah satu karya tulisnya yang telah dipublikasikan berjudul Kadizade sampai Wahabi. Ia dapat dihubungi melalui Instagram @rulianhp.

One thought on “Jawaban Mengapa Operasi Osama bin Laden lebih Sulit daripada Ali Khamenei dan Saddam Hussein

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *