Bulan Ramadan setiap tahun datang dengan suasana yang bervariasi. Masjid menjadi lebih ramai, layaknya sebuah tempat ibadah. Suara tadarus Al-Qur’an sering terdengar, orang-orang mencoba untuk berlomba dalam kebaikan, entah berbagi takjil, atau sekadar memperbanyak jumlah rakaat salat. Bulan Ramadan juga kerap disebut bulan penuh ampunan, penuh keberkahan, dan kemuliaan. Menurut Gus Baha, kita dengan puasa merasa lapar, betapa sakitnya orang-orang miskin yang lapar. Terus merasa menghormati makanan karena begitu nikmat. Ketika puasa, banyak makanan yang sering kita sepelekan ketika bukan di bulan Ramadan. Dan ketika Ramadan tiba, semua terasa spesial, bahkan air putih pun sangat spesial. Namun ketika Ramadan perlahan hampir akhir, ada satu pertanyaan yang kerap muncul di dalam jiwa saya. Pertanyaannya, dari sekian hari menjalankan ibadah puasa, apakah ada makna yang betul-betul tertanam dalam hati, atau justru ibadah di bulan Ramadan ini hanya rutinitas tahunan, kultur yang datang begitu saja lalu pergi?
Saya mencoba melihat ke belakang, ketika di bulan Ramadan. Ada hari ketika melaksanakan ibadah terasa sangat enteng, sangat kuat bersemangat, tapi ada juga hari-hari yang terasa begitu berat, lelah, menunda, dan sering lalai. Dari situlah, saya mulai sadar bahwa berpuasa bukan hanya menahan lapar, dan dahaga. Melainkan sebuah proses untuk mendidik diri sendiri supaya tetap jujur pada kondisi hati, melawan hawa nafsu, mengontrol ego, dan semua memang bentuk upaya mendidik diri. Kadang saya bertanya pada diri sendiri, apakah semua amal ibadah yang saya lakukan benar-benar muncul dari kesadaran, atau hanya menuruti vibes bulan keberkahan ini tanpa meresapi dalam setiap perjalanannya.
Di tengah kehidupan zaman yang semakin gaduh seperti sekarang, ibadah juga sering tampak di ruang publik. Amal saleh diposting, kegiatan ibadah diperlihatkan, dan semangat beribadah sering kali tersebar luas di berbagai media. Sebagian orang pasti melihat hal itu sebagai bentuk pamer. Namun di lain sisi, banyak juga bentuk kemaksiatan yang datang tiba-tiba, sering tersebar luas secara sengaja. Dalam keadaan saat ini, kebaikan diperlihatkan tidak selalu dipandang salah, asalkan niatnya dijaga sebagai bentuk ajakan dan mengingatkan bagi sesama. Barangkali, di tengah derasnya arus keburukan yang dipertontonkan, kebaikan juga perlu datang sebagai penengah, sebagai alat dzikir bahwa masih ada jalan yang baik untuk ditempuh.
Meski demikian, bagi saya sendiri, Ramadan tetap menjadi alat untuk terus refleksi penuh kejujuran. Saya juga menyadari bahwa perjalanan spiritual saya masih sangat jauh daripada orang ‘alim. Setiap harinya terus ada godaan, hati sering kali perlu bertarung melawan gejolak nafsu yang menghampiri, dan silih berganti. Ada kalanya semangat beribadah begitu menguat, namun di waktu lain, diri ini sering jatuh pada kelalaian yang sama. Dari pengalaman itulah kerap muncul kegelisahan batin, setelah Ramadan ini berakhir apakah ada jejak kebaikan yang benar-benar tertancap dalam diri?
Pertanyaan itu mengingatkan saya pada pesan seorang dosen ketika juguran setelah kuliah. Beliau pernah mengatakan bahwa Ramadan lebih dari sekadar bulan peningkatan ibadah, Ramadan adalah momentum untuk mengawali proses pembinaan hati, mengatur hawa nafsu, dan jiwa. Proses ini ibarat mendidik anak kecil, apabila setiap keinginan kita turuti, maka dia akan terus menuntut dan keenakan. Ramadan adalah masa belajar, ruang untuk manusia belajar menahan diri, memperbaiki habits, menata kembali hablum minallah. Jika latihan itu beruntung, maka akan membuahkan kebiasaan yang terus langgeng walaupun Ramadan telah berakhir.
Pada akhirnya, indikator keberhasilan Ramadan bukan seberapa banyak ibadah yang dilakukan, bukan seberapa mempertahankan kebiasaan baik di waktu Ramadan, bukan seberapa sering melaksanakan salat rawatib, salat tarawih dan amalan ibadah yang menunjang pahala di bulan Ramadan. Amalan yang baik bukan hanya dilakukan di bulan Ramadan, tapi kemampuan menjaga amal saleh ketika bulan suci itu telah pergi.
Ketika Ramadan pamit, mungkin hanya suasana yang berubah, seperti sahur bersama keluarga, agenda buka bersama dari alumni sekolah atau teman dekatnya. Masjid yang biasanya ramai pasti setelah Ramadan usai, ada perubahan dalam segi jumlah jamaah, dan kegiatan ritual di masjid. Padahal yang harus dijaga adalah nilai yang telah dilatih selama sebulan penuh. Nilai kesabaran, keikhlasan, peduli terhadap sosial, dan kesadaran untuk terus mendekatkan diri kepada Allah adalah esensi Ramadan. Jika nilai-nilai itu terus hidup, maka Ramadan tidak sepenuhnya pergi.
Saya sadar, bahwa pertanyaan “apa yang tersisa dalam diri?” tidak cukup dijawab secara verbal saja, melainkan perlu pembuktian dalam setiap sikap dan habits yang kita jalani pasca Ramadan. Jika setelah Ramadan kita tetap menjaga kedisiplinan dalam salat, berusaha rutin membaca Al-Qur’an, menahan diri dari perbuatan dzolim, hal itu menjadi tanda bahwa Ramadan benar-benar meninggalkan jejak dalam diri.
Ramadan boleh saja pamit setiap tahun, tetapi maknanya tidak juga ikut pergi. Ia harus tetap tinggal, tumbuh, dan menjadi bagian dari jiwa kita yang terus melekat. Meski perlahan, meski kurang sempurna, meski banyak angin yang ingin menjatuhkan.
Pada akhirnya, yang paling utama bukanlah seberapa sempurna kita dalam menjalani ibadah di bulan Ramadan, melainkan seberapa serius, dan sungguh-sungguhnya kita dalam menata niat memperbaiki diri, menjadikan titik awal untuk pembentukan diri kepada yang lebih baik lagi. Semoga Ramadan di tahun ini bukan hanya datang dan pergi begitu saja tanpa meninggalkan makna. Minimal ada alarm yang terus berdering, agar kita bisa terus mengevaluasi segala perbuatan kita, dan menjadikannya amal saleh yang langgeng.





