Banyumas – Kantor Perwakilan KITLV Jakarta yang berada di bawah Leiden University melakukan kunjungan ke Banyumas (19-25 Juli 2026) untuk menelusuri berbagai literatur mengenai sejarah dan kebudayaan Banyumas. Kunjungan tersebut bertujuan memperkaya koleksi perpustakaan Leiden University di Belanda, khususnya yang berkaitan dengan kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara.
Verina, perwakilan KITLV Jakarta, menjelaskan bahwa pihaknya secara khusus mencari berbagai referensi mengenai Banyumas, mulai dari sejarah, bahasa, politik, sosial-politik, hingga antropologi masyarakatnya.
“Tujuan kami ke Banyumas sebenarnya adalah mencari koleksi tentang kebudayaan Purwokerto dan Banyumas untuk memenuhi koleksi perpustakaan Leiden University di Belanda. Kami memiliki satu ruang khusus untuk koleksi South Asia, sehingga berbagai literatur mengenai Banyumas menjadi bagian penting yang ingin kami lengkapi,” ujarnya.
Menurut Verina, kekayaan budaya Banyumas memiliki nilai akademik yang tinggi sehingga layak menjadi bagian dari koleksi internasional. Literatur lokal dinilai tidak hanya penting bagi masyarakat Banyumas, tetapi juga bagi peneliti dari berbagai negara yang ingin memahami sejarah dan dinamika sosial masyarakat Indonesia.
Prihatin atas Pemangkasan Anggaran Perpustakaan
Dalam kesempatan tersebut, Verina juga menyampaikan keprihatinannya terhadap kabar pemangkasan anggaran perpustakaan di Indonesia. Ia membandingkan kondisi tersebut dengan pengalaman yang ia temui selama bekerja bersama Leiden University.
Menurutnya, selama bekerja dengan Leiden University, ia belum pernah menemui kebijakan pemangkasan anggaran perpustakaan. Sebaliknya, perpustakaan justru terus memperoleh dukungan untuk memperkuat koleksi.
“Sepanjang saya bekerja bersama Leiden, kami belum pernah mengalami pemangkasan anggaran perpustakaan. Bahkan pada 2024 atau 2025 kami membeli sekitar lima ribu buku dan pendanaannya tersedia,” katanya.
Ia mengaku sedih melihat perpustakaan di Indonesia justru menghadapi pengurangan anggaran di tengah pentingnya budaya literasi.
“Sebagai pustakawan saya merasa sedih. Kita baru saja memperingati Hari Pustakawan Nasional, tetapi di sisi lain muncul kabar anggaran perpustakaan dipangkas. Padahal perpustakaan dan buku adalah jendela dunia. Kapan kita bisa maju kalau akses terhadap pengetahuan justru semakin terbatas?” ungkapnya.
Senada dengan hal tersebut, Founder Banyumas International Literacy Festival (BIL Fest), Rahmi Wijaya, menyampaikan bahwa kondisi tersebut menjadi ironi ketika literasi belum ditempatkan sebagai salah satu program prioritas pembangunan.
Menurutnya, perhatian terhadap literasi seharusnya tidak berhenti pada peringatan hari-hari nasional atau kegiatan seremonial, melainkan diwujudkan melalui kebijakan yang memperkuat ekosistem membaca, perpustakaan, serta pelestarian pengetahuan lokal.
“Kami menyayangkan ketika literasi belum menjadi program prioritas pemerintah. Padahal bangsa yang ingin maju harus terlebih dahulu membangun budaya membaca dan menghargai pengetahuan. ” ujar Rahmi Wijaya.
Ia menambahkan, kedatangan KITLV Jakarta ke Banyumas justru menunjukkan bahwa pengetahuan lokal memiliki nilai penting di mata dunia. Karena itu, menurutnya, Indonesia seharusnya menjadi pihak yang paling serius merawat dan mengembangkan kekayaan literasi yang dimiliki.
Koleksi Leiden Dapat Diakses Masyarakat
Meski berada di Belanda, Verina menegaskan bahwa masyarakat Indonesia tetap dapat memanfaatkan berbagai koleksi digital Leiden University melalui layanan terbuka (open access).
Menurutnya, masyarakat dapat mengakses berbagai arsip, termasuk foto-foto sejarah dan koleksi digital lainnya selama memiliki koneksi internet.
“Kalau untuk koleksi kami banyak yang bersifat open access, jadi bisa diakses dari mana saja. Masyarakat umum juga bisa mengunduh berbagai gambar sejarah melalui koleksi digital Leiden University. Tinggal mencari Leiden University Library, lalu masuk ke layanan digital collection untuk menelusuri koleksi yang dibutuhkan,” jelasnya.
Akses terbuka tersebut diharapkan dapat memperluas kesempatan masyarakat, peneliti, mahasiswa, maupun pegiat budaya untuk memanfaatkan sumber-sumber sejarah yang selama ini tersimpan di perpustakaan Leiden University.
Kunjungan KITLV Jakarta ke Banyumas menjadi salah satu upaya memperkuat dokumentasi pengetahuan lokal agar tidak hanya tersimpan di tingkat daerah, tetapi juga menjadi bagian dari khazanah pengetahuan dunia yang dapat diakses oleh masyarakat internasional. Di sisi lain, pertemuan ini menjadi pengingat bahwa ketika lembaga internasional datang untuk mengumpulkan dan melestarikan pengetahuan tentang Banyumas, Indonesia juga perlu semakin serius menjadikan literasi sebagai fondasi pembangunan bangsa.


