MANDIRANCAN – Suasana ceria tampak di Bale Babad Banyumas, Desa Mandirancan, Kecamatan Kebasen, Banyumas. Puluhan mahasiswa Sosiologi mendatangi lokasi tersebut untuk mengikuti Festival Babad Banyumas 2026.
Kunjungan lapangan ini dipimpin oleh dosen pengampu mata kuliah Kearifan Lokal, Alfian Ihsan. Para mahasiswa diajak belajar sejarah secara langsung dari sumbernya. Acara ini menjadi wadah edukasi yang menarik bagi anak muda.
Pada hari pertama, festival menyajikan serangkaian kegiatan menarik. Mulai dari pameran wayang dongeng, sesi menggambar wayang, hingga pementasan dongeng Babad Banyumas. Seluruh rangkaian acara dikemas secara interaktif dan penuh kehangatan.
Acara inti dimulai dengan sesi dongeng Babad Banyumas. Dongeng ini dibawakan langsung oleh Kang Nassirun Purwokartun. Beliau merupakan budayawan lokal sekaligus penggagas utama festival ini.
Dengan gaya tutur yang khas dan jenaka, Kang Nassirun bercerita tentang asal-usul Banyumas. Beliau menyampaikan kisah-kisah legendaris dengan cara yang sederhana. Pendekatan ini membuat materi sejarah yang rumit jadi mudah dipahami.
Di sudut lain area festival, pameran wayang dongeng turut mencuri perhatian. Berbagai bentuk wayang unik dipajang dengan rapi. Wayang-wayang ini memiliki bentuk visual yang tidak biasa dan kaya warna. Mahasiswa juga diajak untuk mencoba menggambar karakter wayang mereka sendiri.
Alfian Ihsan menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mendekatkan mahasiswa dengan akar budaya tempatan. Menurutnya, pembelajaran sosiologi tidak boleh hanya berhenti di dalam ruang kelas. Mahasiswa perlu melihat dan merasakan langsung praktik kebudayaan di tengah masyarakat.
“Mata kuliah Kearifan Lokal butuh pemahaman lapangan. Di festival ini, mahasiswa tidak sekadar membaca teori. Mereka mendengarkan cerita, melihat artefak budaya, dan berinteraksi dengan pelaku budaya secara langsung,” ujar Alfian di sela-sela kegiatan.
Para mahasiswa menunjukkan antusiasme yang sangat tinggi sepanjang acara. Banyak dari mereka yang aktif bertanya dan mengabadikan momen lewat telepon genggam. Kunjungan ini memberikan pemahaman baru tentang kekayaan tradisi Banyumas yang selama ini hanya mereka dengar sepintas.
Salah satu mahasiswa mengaku sangat terkesan dengan kegiatan ini. Ia merasa seperti diajak melintasi lorong waktu ke masa lalu. Lewat dongeng yang dibawakan, ia bisa memahami nilai-nilai moral dan sejarah pembentukan identitas masyarakat Banyumas.
“Sensasinya beda sekali dengan membaca buku teks di kampus. Saat mendengarkan Kang Nassirun mendongeng, kami seperti masuk ke dalam cerita rakyat itu sendiri. Sejarah ternyata bisa dikemas secara seru dan tidak membosankan,” ungkapnya gembira.
Festival Babad Banyumas 2026 di Bale Babad Banyumas ini diharapkan dapat terus berlanjut. Kegiatan semacam ini menjadi jembatan penting untuk mengenalkan sejarah lokal kepada generasi muda. Lewat perpaduan edukasi dan seni, warisan budaya Banyumas akan tetap hidup dan lestari di masa depan.



