PURWOKERTO-Bila berbicara teater, di bayangan kita merujuk pada sebuah seni pertunjukan teatrikal yang memiliki format baku. Kita umumnya bisa mengira-ngira, bahwa jalannya cerita merupakan satu unsur yang sama dari awal hingga akhir. Adapun hal yang berbeda, mungkin hanya terbatas pada cerita apa yang dibawakan.
Tapi hal tersebut dikemas secara radikal pada pagelaran “Berita Lelayu Edhon” oleh Teater Gethek. Bertempat di Aula Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Jenderal Soedirman pada 23 September 2026. Teater Gethek menyajikan penampilan yang menggebrak bentuk teater konvensional pada umumnya. Banyak unsur berbeda yang dikolaborasikan di dalamnya tapi tetap selaras dengan jalannya cerita.
Tak mengherankan bila kemudian banyak penonton yang menyaksikan pagelaran ini. Ada penonton memadati tempat duduk lesehan dekat dengan panggung. Ada juga penonton yang menyaksikan dari area kursi di bagian belakang. Jumlah penontonnya pun semakin bertambah seiring dengan jalannya cerita, padahal sudah close gate sejak pukul 19:30.
Tema Berat yang Dikemas Ringan
Tema yang diangkat pada pagelaran ini berkaitan dengan kematian. Biasanya kematian identik dengan sesuatu yang serius, berat, dan suasana duka. Sehingga alurnya cenderung mengarah kepada sesuatu yang menyangkut kesedihan dan kehilangan.
Tapi pada pagelaran ini, tema berat tersebut dapat dikemas dengan sesuatu yang ringan. Unsur kematian diolah dengan ciamik menjadi sesuatu yang segar untuk ditampilkan. Penonton dapat menikmati cerita yang dibawakan dengan santai dan nyaman. Bahkan kesan kematian yang menyeramkan dapat digeser menjadi sesuatu yang menenangkan.
Sisipan Pesan Kesadaran Lingkungan
Disamping tema utama yang diangkat yakni mengenai kematian. Pada pagelaran ini, penonton tidak hanya dihibur oleh penampilan para aktor dan cerita yang dibawakan. Tapi diselipkan juga pesan moral mengenai kesadaran lingkungan.
Seperti yang kita ketahui, bahwa kian hari isu akan kerusakan lingkungan sudah semakin mengkhawatirkan. Alam yang dahulu menjadi ibu bagi segala kehidupan kini sudah mengalami degradasi yang parah. Pada pagelaran itu disinggung hal yang lebih kontekstual dan dekat dengan penonton yakni Sungai Serayu.
Perubahan Suasana yang Drastis
Pada acara inti yakni pertunjukan teater, awalnya penonton disuguhkan dengan nuansa mencekam dan mengerikan. Edhon selaku aktor mengenakan kostum seperti kain kafan. Memperlihatkan gambaran jenazah yang sendirian. Ditambah dengan pencahayaan yang temaram, menyorot badan yang tergeletak di bawah.
Mulanya para penonton berpikir cerita yang dibawakan adalah sesuatu yang serius dan berat. Tapi hal tersebut langsung pecah ketika Edhon melemparkan candaan. Suasana yang tadinya tegang, berubah menjadi penuh tawa dari para penonton. Tak disangka, terjadi perubahan suasana drastis yang memecah ekspektasi penonton.
Selipan Beberapa Penampilan
Terdapat hal tak biasa pada pagelaran teater ini karena menyelipkan beberapa unsur berbeda. Pada penampilan pertamanya saja, penonton sudah disuguhi pembacaan geguritan. Sebuah bentuk pagelaran yang tidak biasa, karena bukannya langsung menampilkan teater sebagai inti pementasan.
Apalagi pada pagelaran ini memasukan unsur penampilan band jadi bagian pertunjukan. Umumnya musik yang ada dimanfaatkan sebagai media pengiring untuk membangun suasana cerita. Tapi pada pementasan ini batasan itu didobrak, pementas musik diikutsertakan sebagai bagian dari alur cerita. Mereka secara terang-terangan tampil di atas panggung, bukan di belakang layar.
Edhon selaku aktor pementasan tidak hanya berperan sebagai aktor utama yang membawakan cerita. Ia juga menyelipkan pembacaan puisi berjudul “Aku” karya Chairil Anwar. Apalagi pembacaan puisi tersebut juga diiringi seorang pantomimer. Sehingga kian menegaskan puisi yang dibacakan dengan gerakan pantomim yang serasi.
Dari keseluruhan penampilan, bisa dikatakan penampilan teater ini cukup radikal. Ia tidak puas memainkan unsur teatrikal saja. Pagelaran memasukan unsur seperti pembacaan geguritan, penampilan band sebagai bagian cerita, pembacaan puisi, dan penampilan pantomim. Sehingga mengkonstruksikan ulang batasan-batasan dan menantang sejauh mana pagelaran teater bisa dikemas.




