Racikan Bumbu Bhineka Tunggal Ika

Berlari menginjak 10 anak tangga. Suara percikan air terdengar, “Huhh, dingin sekali!”, kataku. Menyaut handuk untuk berselimut dengan wajah polos membuka pintu kamar mandi.”Udah mandi? ayo sarapan!”, kata ibu. Mendekat titik kumpul meja bundar dengan isi lauk pauk lezat dan nasi sebagai simbol warga NKRI.

“Makan lah!”, saut ibu.”Yeahh”, jawabku sambil menata satu persatu lauk yang berbaris rapi seperti sedang mengikuti PBB.”Hap!!.eumm..” Sesuap nasi serasa perpaduan  simbol Bhineka Tunggal Ika. Dari berbagai macam lauk tetap rasanya menjadi satu kenikmatan hakiki yang tak tertandingi.

Ibu tersenyum mengamati mimik wajahku.”Aku senang kamu suka,nak”,kataya dengan suara khas ibuku. Suara pelan, sopan di telinga. Aku mengangguk dan tidak bisa berkata-kata. Lidahku bergoyang, gigiku bersatu untuk mencerna lauk dengan persatuan dan kesatuan enzim yang di milikinya.

“Uhh. . . sambal ini membuatku merem melek bu!”, kataku. Ibuku tersenyum karena dipuji masakannya saja bisa membuatnya Bahagia. Sederhana itukah? batinku bertanya-tanya.

Sesuap nasi perlahan habis. Aku nyalakan air untuk mencuci piring. Melihat ibu mengelap tangannya dengan lap, menandakan sudah tidak perlu diragukan kalau dia lebih sayang padaku dibanding dirinya sendiri. Sambil berpikir kalau aku lulus nanti, aku mau bertanya “mau apa bu?”,dalam hatiku berbicara.

Aku tersenyum, saat aku sadar bahwa sesuap nasi tidak semudah itu untuk diduakan. Ini bukan hanya sekedar makanan, tapi banyak racikan bumbu, kasih sayang, cinta, tenaga, niat, yang menjadi rutinitas ibuku di pagi hari. Ini bukan pekerjaannya, namun ibuku mau padahal ia masih bisa tampil cantik, bergaya anak muda, tapi dia memilih untuk mengelap tangannya dengan lap bekas. Bahkan goresan ujung pisau saja sudah tak mampu membuatnya berkata”SAKIT!!”

Racikan disatu suap nasi bukan hanya racikan rempah, namun ada racikan Bhineka Tunggal Ika dan PBB yang selalu ku temui saat pagi hari.

Dalam sesuap nasi yang mengunjungi lidahku, aku rasakan berjuta perjuangan pahlwanku untuk mau menumpahkan semua resep handalnya, yaitu ibu.

Masakan sederhana namun lebih dari kata sempurna, yaitu tempe goreng dengan sambal lalu disantap saat hangat. Racikan Bhineka Tunggal Ika kini membuncah, perpaduan PBB dengan pasukan TNI semakin meraja lela dan membuat ketagihan saat mereka mengunjungi lidahku.

Kusadari, itu dulu. Aku yang sekarang bukan aku yang dulu, yang selalu dikunjungi pasukan PBB dan TNI. Aku jauh dari ibu, kini  hanya garam yang memberi salam di lidahku, pisah negeri demi satu masa depan dan cita-citaku. Aku rindu. . . dengan sesuap nasi racikan Bhineka Tunggal Ika, namun aku tak mau melihat ibuku mengelap tangannya dengan lap bekas lagi. Aku ingin melihat ibuku menyayangi dirinya sendiri tanpa harus goresan pisau itu menyakiti jemarinya lagi.

Ibu. . . tunggu aku kembali di negeri kita, untuk menyambut sesuap nasi dari pasukan PBB dan TNI.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Laras Sanggitaa

Laras Sanggitaa adalah penulis perempuan yang berasal dari Kalisalak, Banyumas. Ia telah merilis dua buku yaitu "Women Can To" dan "Cinta di Balik Sarjana". Bisa disapa melalui Instagram: @larassanggitaa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *