Dompet Dhuafa, Teh Bedana, dan Laksana Aksara: Ketika Desa Kecil Punya Cita-Cita Besar

BEDANA — Di tengah riuh rendah acara launching program literasi Laksana Aksara Bedana yang digelar di GOR Desa Bedana, ada satu sosok yang paling sering disalami, diajak ngobrol, dan dikejar-kejar wartawan muda: Bapak Zaini Tafrikhan, S.Ag, Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Jawa Tengah periode 2023–2028.

Beliau hadir bukan sekadar sebagai tamu kehormatan, tapi sebagai mitra yang selama ini ikut mendorong geliat ekonomi warga lewat program pengembangan Teh Bedana—komoditas lokal yang diam-diam punya potensi besar, tapi selama ini seperti kutu buku yang pemalu: pintar, tapi jarang diperkenalkan.

Teh Bedana: Potensial, tapi Butuh “Pendamping Hidup”

Dalam obrolannya bersama tim jurnalistik muda Desa Bedana, Zaini menyebut bahwa teh lokal ini sebenarnya punya masa depan cerah. Sayang, cerahnya tidak otomatis bikin sejahtera.

“Potensinya besar, sayang kalau nggak dimaksimalkan,” ujarnya. Dompet Dhuafa pun turun tangan lewat dukungan dana zakat, infak, sedekah, hingga wakaf. Kolaborasi ini, kata Zaini, ibarat rujak serut: berbagai pihak masuk, lalu dicampur supaya hasilnya lebih pedas—eh, lebih terasa manfaatnya.

Masalahnya adalah penunjang yang belum memadai. Petani sudah punya niat, potensinya sudah ada, tapi jalur untuk menyulap teh menjadi produk unggulan belum tersedia sepenuhnya. Di sinilah Dompet Dhuafa masuk sebagai support system ekonomi kerakyatan.

Laksana Aksara Bedana: Literasi sebagai Jendela Desa

Dalam momentum peluncuran program literasi yang berlangsung meriah itu, Zaini menegaskan bahwa literasi bukan sekadar belajar membaca dan menulis. Di desa seperti Bedana, literasi punya fungsi strategis: membuka jendela agar orang luar bisa melihat potensi desa yang selama ini tersembunyi seperti cerita mistis yang cuma diketahui warga lokal.

“Dengan literasi, informasi bisa dibuka lebih luas. Semakin dikenal, potensi desa bisa lebih dihargai,” kata Zaini.

Ia menyebut beberapa komoditas yang bisa dijadikan bahan cerita: teh, kopi, hingga bawang merah. Menurutnya, kalau informasi ini disebarkan lewat jurnalistik, dokumentasi kreatif, dan karya-karya anak muda, maka Bedana punya peluang masuk radar publik yang lebih luas.

Program Laksana Aksara Bedana diharapkan menjadi “mesin informasi desa”—yang tidak cuma menulis kegiatan, tapi juga mengenalkan potensi desa ke luar lembah.

Tantangan: Pengetahuan, Teknik, dan Kebiasaan Lama

Menurut Zaini, mendampingi masyarakat bukan hal mudah. Tantangannya kadang bukan soal modal, bukan soal alat, tapi… pengetahuan.

“Kadang masyarakat belum tahu bagaimana mengolah potensi yang mereka punya,” katanya.

Solusinya bukan sekadar memberikan bantuan, tapi mengajak warga memahami masalah mereka sendiri, kemudian memfasilitasi edukasi agar mereka mampu mengelola potensi tersebut.

Ini termasuk literasi: belajar memahami teknik, mengolah komoditas, hingga membaca kebutuhan pasar. Kalau selama ini masyarakat hanya mengandalkan metode “warisan turun-temurun”, maka program pendampingan mencoba menghadirkan pendekatan yang lebih ilmiah tanpa mematikan kearifan lokal.

Bedana, Desa yang Penuh Percaya Diri

Dari obrolan sore di GOR Bedana itu, satu hal yang jelas: desa ini sedang menuju fase baru. Teh yang dulu hanya diseduh untuk tamu, kini sedang dipoles agar bisa dikemas. Anak-anak mudanya mulai belajar jurnalistik. Program literasi hadir bukan sebagai acara seremonial, tapi sebagai penggerak imajinasi dan kepercayaan diri warga.

Dan Dompet Dhuafa, lewat Zaini Tafrikhan, memberi dorongan seperti guru yang bilang kepada muridnya: “Kamu bisa kok, tinggal butuh sedikit bimbingan.”

Bedana mungkin kecil, tapi tidak berarti kecil cita-citanya. Kalau program teh berjalan, literasi hidup, dan masyarakat terus belajar, bukan tidak mungkin Bedana kelak dikenal bukan hanya sebagai desa penghasil teh—tetapi desa yang tahu cara bercerita tentang dirinya sendiri.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Alvin Qodri Lazuardy

Alvin Qodri Lazuardy, asli Tegal, sekarang hidup di Jogjakarta semenjak April 2025. Pernah ikut membantu membina pengasuhan dalam bidang Literasi di Pesantren Ahmad Dahlan Kab. Tegal (2020-2023), kemudian juga pernah membina pesantren dan sekolah dengan frame Ekologi Islam dengan gerakan Ekoliterasi di SMP AT-TIN UMP Margasari, Kab. Tegal (2024-2025). Sekarang mendirikan dan mengasuh sebuah Gerakan Literasi bernama Alfuwisdom Publishing and Book Store yang ditopang dengan badan Usaha CV. Alfuwisdom Mitra Prima di Piyungan, Jogjakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *