“Laras”, Cara Baru Menikmati Pertunjukan Wayang

Malam Minggu Uti (19) dan Ninda (18) agak berbeda dari biasanya. Dua mahasiswa Ilmu Komunikasi tersebut menanggalkan sementara godaan nongkrong di coffee shop yang estetik, nonton di bioskop, atau sekadar menikmati kemerlap lampu dari atas bukit yang dinamai Bintang. Mereka memilih menepi dari tempat-tempat yang jadi magnet bagi mahasiswa yang baru kuliah di Yogya tersebut. Dua gadis itu memutuskan untuk menonton sebuah pertunjukan dengan tajuk “Laras”.

Mereka duduk dan menikmati pertunjukan musikalisasi puisi wayang pada 11 Juli 2026 di sekretariat Jejak Imaji, Bantul, Yogyakarta. Di hadapan Uti dan Ninda memang ada kelir yang membentang, tetapi di belakangnya ada pula gitar, celo, piano, biola, dan bass. Alat musik tersebut dimainkan oleh Jejak Imaji dengan membawakan lima puisi bertema wayang. Setiap kali puisi akan dibawakan, kelir diturunkan dan dalang mengantar melalui sepenggal cerita.

Bagi Ardy (34), seorang guru SMA, konsep tersebut membantunya sebagai penonton untuk memahami puisi yang dibawakan. Menurutnya, sebagian orang justru kurang suka jika disajikan cerita wayang secara utuh. Meski hanya lima puisi, secara musikal berhasil menghanyutkannya pada suasana pewayangan, mulai dari tenang, romansa hingga puncak ketegangan seperti tragedi dan peperangan. Suasana tersebut yang juga membuat Uti dan Ninda terperangah sepanjang pertunjukan.

Bagi Uti dan Ninda, pengalaman tersebut jadi yang pertama. Sebelumnya mereka hanya tahu pertunjukan wayang sekadar ada wayang, dalang, sinden, gamelan, dan semacamnya. “Laras” menjadi pertunjukan yang berbeda karena wayang berpadu dengan puisi dan musik. Senada dengan mereka, Elisha Orcarus Allaso sebagai dalang dan sinden, menanggapi tiga unsur tersebut sebagai perpaduan yang unik. Musik ibarat jembatan. Ia mengantar penikmat sastra menikmati wayang, dan sebaliknya, penikmat wayang mendengarkan sastra.

Begitu pula dengan Ardy. Ia pernah menonton literally pertunjukan wayang, tapi dulu, dulu sekali. Menurutnya, “Laras” menawarkan kemunculan wayang dengan cara yang berbeda. Wayang yang dikemas dengan puisi dan musik ternyata tidak membosankan.

Lebih dari itu, Ilham (30) menanggapi “Laras” sebagai upaya revitalisasi wayang, baik pesan maupun maknanya. Dosen sastra ini juga turut resah ketika eksistensi wayang perlahan terkikis. Melalui musik, wayang, pun puisi lebih mudah meresap di dada dan perasaan setiap penontonnya. (ari)  

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Redaksi Temenan

Kalau ada typo, itu bukan salah kami—itu seni. Kalau ada yang tersinggung, anggap aja efek samping membaca kebenaran dengan bumbu cabe rawit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *