Tasikmalaya, 26 Desember 2025. Momentum pembacaan pantun oleh Acep Zamzam Noor di Grand Launching Antologi Puisi Nasional “Syukur Waktu” | Teroka Kota 2025 menjadi penting. Sastra tidak lagi berdiri sebagai ornamen acara, tapi sebagai interupsi. Ia menyela kemapanan, merusak suasana nyaman, dan mengingatkan bahwa kota bukan hanya ruang administrasi, melainkan ruang moral yang terus diawasi oleh ingatan warganya.
Acep Zamzam Noor, sebagai penyair senior, tampak paham satu hal: kekuasaan paling takut bukan pada teriakan, tapi pada kalimat pendek yang sulit disangkal. Pantun itu provokatif karena ia sederhana. Dan justru kesederhanaan itulah yang membuatnya berbahaya sebab ia memaksa kita bertanya: jika kata-kata saja bisa sejujur ini, mengapa kekuasaan sering kali tidak?
Pantun Acep Zamzam Nur itu bekerja seperti logika yang dipadatkan. Ia tidak panjang, tidak berbelit, tapi tepat menusuk ke pusat persoalan: klaim moral yang bertabrakan dengan praktik kekuasaan.
Inilah salah satu pantun yang dibacakan Acep Zamzam Noor sebagai bentuk sindiran kepada Mantan Wakil Gubernur Jawa Barat, yang dulu mendampingi Ridwan Kamil.
ke cirahong naik pedati
makan bakso di manunjaya
mengaku panglima santri
dana hibah diangkut semua



