Siapa sih yang tidak suka dengan keindahan? Saya sendiri mengakui bahwa keindahan adalah nikmat yang tidak bisa didustakan. Keindahan menghadirkan rasa nyaman untuk dipandang sekaligus kedamaian jiwa yang didambakan banyak orang. Ia selalu memiliki cara tersendiri untuk menarik perhatian manusia—baik melalui warna, bentuk, suasana, maupun cara seseorang mengekspresikan dirinya.
Di era media sosial saat ini, keindahan—atau yang sering kita dengar dengan istilah aesthetic—tidak lagi sekadar dinikmati, tetapi juga dipamerkan, dibingkai, dan dibagikan. Dari feed Instagram yang tertata rapi hingga video singkat rutinitas sehari hari atau yang biasa netizen sebut dengan “A Day in My Life”. Konsep aesthetic life ini, seolah menjadi standar baru dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Tak sedikit selebgram yang saya ikuti, mulai dari kreator lokal hingga figur mancanegara. Dari mereka, saya melihat bahwa estetika tidak sekadar tentang keindahan visual, melainkan juga strategi membangun personal branding di tengah arus media sosial yang serba cepat. Namun, di balik tampilan yang memanjakan mata itu, muncul pertanyaan yang selalu berputar di kepala saya : apakah itu wujud kreativitas dan kebebasan berekspresi, atau justru tekanan sosial yang membentuk identitas diri demi pengakuan publik?
Media sosial telah menjadi ruang utama bagi generasi muda untuk mengekspresikan diri. Siapa sih jaman sekarang yang ngga punya media sosial? Mulai dari anak kecil, remaja hingga lansia pun tak ingin kalah. Seakan akan umur adalah angka yang tak berarti. Maka tak heran jika kita melihat anak para artis yang belum bisa main hp atau lebih tepatnya belum tau apa itu hp, sudah dibikinkan Instagram, Tiktok, hingga Youtube. Dan lebih gokilnya, followersnya bisa ngalahin Gen Z yang sudah bermain media sosial jauh sebelum pandemi COVID-19 melanda.
Saya sendiri mulai bermain sosial media sejak kelas 5 SD. Itu pun karena saya memaksa ayah saya untuk membuatkan akun Facebook. Menurut saya, di era sekarang sudah tidak zamannya lagi bermain Facebook. Orang-orang lebih memilih menghabiskan waktu buat scroll Tiktok sambil rebahan dan menikmati cemilan. Mereka berlomba lomba mengikuti tren demi tren agar tetap mengikuti arus perkembangan zaman.
Contohnya tren velocity yang merajalela, outfit check, dan foto-foto yang dibuat se-aesthetic mungkin lalu diposting di berbagai media sosial. Entah itu hasil dari jepretan nongki-nongki cantik, travelling, hingga membeli barang-barang mewah, yang sebenarnya tidak dibutuhkan hanya saja demi tidak ketinggalan tren. Apakah memang real life nya, atau hanya sekadar topeng? Atau hanya bentuk fear of missing out (FOMO)?
Banyak fenomena aesthetic life yang sangat terasa dalam hal-hal sederhana di sekitar kita. Misalnya, saat seseorang merasa ragu mengunggah foto karena latar rumah dianggap “kurang estetik”, dindingnya retak, pencahayaannya redup, atau ruangannya terlalu sempit. Banyak yang akhirnya memilih memotret di kafe, perpustakaan, atau sudut kota tertentu hanya demi mendapatkan kesan visual yang lebih menarik. Bahkan, tidak sedikit yang menunda makan karena ingin memotret makanan terlebih dahulu agar terlihat cantik saat diunggah ke media sosial.
Fenomena lain yang sering kita jumpai adalah kebiasaan membeli barang bukan karena kebutuhan, melainkan demi konten. Tumbler, tote bag, buku catatan, atau kopi dengan logo tertentu seolah menjadi simbol gaya hidup estetik. Padahal, barang serupa sudah dimiliki di rumah. Namun, tekanan untuk “terlihat selaras” dengan tren membuat seseorang merasa perlu membeli ulang agar tidak tampak tertinggal dibandingkan teman-temannya.
Di lingkungan pertemanan pun, aesthetic life kerap mempengaruhi cara seseorang menampilkan diri. Ada yang merasa harus selalu berpakaian rapi dan serasi setiap kali bertemu, takut dianggap tidak mengikuti tren. Ada pula yang membandingkan kehidupan sehari-harinya dengan unggahan orang lain merasa hidupnya membosankan karena tidak sering berlibur, tidak nongkrong di tempat hits, atau tidak memiliki rutinitas seindah yang tampil di layar gawai. Padahal, yang ditampilkan di media sosial hanyalah potongan kecil dari kehidupan, bukan keseluruhan cerita.
Di satu sisi, aesthetic life memberikan dampak positif yang nyata, antara lain: meningkatkan kreativitas dan ekspresi diri.
Banyak anak muda mulai mengekspresikan diri lewat fotografi, desain, journaling, hingga penataan kamar. Contohnya, seseorang yang awalnya hanya iseng mengunggah foto estetik di media sosial, lama-kelamaan mengasah kemampuan edit, komposisi warna, bahkan menjadikannya peluang kerja atau usaha kecil.
Dampak lain adalah membuat hidup terasa lebih teratur dan nyaman. Kebiasaan menata meja belajar, kamar, atau buku catatan dengan rapi dan indah dapat meningkatkan mood dan semangat. Ruang yang tertata estetik sering membuat seseorang lebih betah belajar atau bekerja.
Lalu menjadi sarana healing dan self-care. Bagi sebagian orang, menikmati hal-hal estetik seperti senja, kopi hangat, atau menulis di buku harian adalah cara sederhana untuk menenangkan diri dari tekanan hidup.
Namun disisi lain dampak negatif aesthetic life juga tidak kalah nyata.
Pertama, tekanan sosial dan rasa tidak cukup. Melihat kehidupan orang lain yang tampak “sempurna” di media sosial bisa menimbulkan perasaan tertinggal. Contohnya, seseorang merasa hidupnya membosankan hanya karena tidak punya kamar estetik, outfit mahal, atau tempat nongkrong yang Instagramable.
Kedua, memicu gaya hidup konsumtif. Demi terlihat estetik, seseorang bisa terdorong membeli barang-barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan, seperti dekorasi mahal, pakaian tertentu, atau kopi kekinian, meskipun kondisi keuangan tidak mendukung.
Ketiga, kehilangan makna keaslian. Tidak jarang, sesuatu dilakukan bukan karena kebutuhan atau kenyamanan, tetapi demi konten. Misalnya, memesan makanan hanya karena tampilannya cantik untuk difoto, bukan karena ingin menikmatinya.
Jadi, saya menyimpulkan bahwasanya tidak perlu memaksakan keadaan demi terlihat meĺnarik di mata orang lain. Kita perlu bijak dalam memilah dan menyikapi konten media sosial, serta menjadikan estetika sebagai ekspresi diri yang otentik, bukan sebagai tekanan sosial yang membebani. Enjoy your life!




