Kamu, lulusan universitas negeri ternama. Dulu, di masa kuliah, kamu sering berdiskusi tentang cita-cita membangun desa, membawa teknologi ramah lingkungan untuk petani ataupun ide untuk menciptakan dampak positif bagi masyarakat . Tapi kini, setelah bekerja dan mengenal gaji, kamu lebih sibuk mengumpulkan gadget terbaru, mobil mewah, dan liburan ke Bali setiap akhir pekan. “Hidup cuma sekali,” katamu sambil mengunggah foto di media sosial, dikelilingi barang-barang branded.
Iklan di layar ponsel, cerita sukses teman seangkatan di Instagram, dan tekanan dari lingkungan yang mengukur nilai seseorang dari apa yang dimilikinya. Kamu bukan satu-satunya; ribuan pemuda seperti kamu, terperangkap dalam pusaran yang sama, lupa bahwa materialisme bukan tujuan, melainkan jebakan.
Di era digital, kamu dan pemuda Indonesia lainnya semakin terpikat oleh panggilan materialisme. Survei Badan Pusat Statistik tahun 2025 menunjukkan bahwa generasi Z dan milenial menghabiskan hingga 40 persen pendapatan mereka untuk barang konsumsi non-esensial, seperti fashion dan elektronik.
Di kota-kota besar, mall-mall megah menjadi kuil baru, di mana pemuda berbondong-bondong mencari identitas melalui belanja. Saya amati, di kafe-kafe esetetik, diskusi tentang mimpi besar digantikan obrolan soal promo kredit cicilan. Bukan lagi soal “apa yang bisa saya beri untuk bangsa”, tapi “apa yang bisa saya dapatkan sekarang”. Fenomena ini bukan sekadar tren namu lebih tepatnya virus yang menyebar lewat algoritma media sosial, di mana kesuksesan diukur dari like dan follower, bukan dari kontribusi nyata.
Panggilan materialisme ini bukan barang baru, terhubung dengan sejarah panjang perjuangan bangsa kita. Ingat Bung Karno, yang dalam pidatonya pernah memperingatkan bahaya kapitalisme liar yang menjadikan manusia budak barang.
Di masa Orde Baru, materialisme disuntikkan melalui pembangunan ekonomi yang mengabaikan nilai spiritual, menciptakan kelas menengah yang haus prestise. Kini, di tengah globalisasi, pemuda kita terhubung dengan dunia Barat seperti yang digambarkan filsuf Erich Fromm dalam “To Have or To Be” (1976) di mana “memiliki” lebih diutamakan daripada “menjadi”.
Di Indonesia, ini terkait dengan ketidakadilan sosial, ketika korupsi elite merampas peluang, pemuda mencari pelarian di materialisme, menghubungkan mimpi pribadi dengan ilusi kekayaan instan, alih-alih perjuangan kolektif seperti yang dilakukan pemuda 1928 dalam Sumpah Pemuda.
Di balik panggilan materialisme, ada kekosongan jiwa yang mendalam. Pemuda bukanlah korban pasif; mereka terpanggil karena sistem pendidikan kita gagal menanamkan nilai dan hanya disiapkan untuk menjadi budak-budak korporat serta buruh pabrik.
Materialisme bukan musuh, tapi jika menjadi panggilan utama, ia merusak esensi kemanusiaan. Seperti yang dikatakan Halida Hatta, anak Bung Hatta, kekayaan sejati bukan di harta, tapi di kebahagiaan batin. Pemuda hari ini perlu menyadari bahwa panggilan ini adalah jebakan oligarki global, yang membuat mereka lupa akar budaya kita yaitu gotong royong dan kebhinekaan.
Dampaknya secara individu, pemuda terjebak dalam hutang dan kecemasan, seperti laporan WHO 2024 yang menyebut depresi di kalangan muda Indonesia naik 30 persen akibat tekanan konsumsi. Secara sosial, ia memperlemah solidaritas karena pemuda lebih sibuk bersaing daripada bersatu melawan korupsi dan kemiskinan. Bagi bangsa, ini berarti kehilangan generasi penerus yang visioner.
Jika tak dihentikan, Indonesia akan jadi negara kaya sumber daya tapi miskin jiwa, di mana panggilan materialisme pemuda bukan membangun, melainkan menghancurkan mimpi bersama. Waktunya pemuda bangun, pilih panggilan yang lebih mulia dari sekadar memiliki, ke menjadi.




