Lapak Baca UMP: Aksi Berbagi Takjil dan Diskusi Publik Sambut Hari Perempuan Internasional

BANYUMASLapak Baca UMP menggelar aksi berbagi takjil dan makanan kepada masyarakat Banyumas pada Kamis, 12 Maret 2026. Berbeda dengan aksi sosial pada umumnya, kegiatan ini mengusung pesan kuat: “This is Not Charity, This is Protest”. Pesan tersebut menegaskan bahwa gerakan ini merupakan manifestasi nyata dari solidaritas “rakyat bantu rakyat”.

“Gerakan ini bukan sekadar ajang amal, melainkan sebuah bentuk protes. Kelaparan masih menjadi problematika serius di negara kita. Aksi ini menunjukkan bahwa rakyat akan terus saling membantu, sebab seluruh takjil dan makanan ini diperoleh dari donasi solidaritas akar rumput,” tegas Amar, salah satu pemuda yang terlibat dalam kegiatan tersebut.

Aksi berbagi ini dilakukan dengan menyusuri jalanan mulai dari Karanglewas hingga kawasan Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP). Sasarannya adalah elemen masyarakat pekerja, seperti tukang becak, pedagang kaki lima, juru parkir, hingga ojek pangkalan.

Diskusi Publik: Menakar Ketertindasan Perempuan

Selain berbagi makanan, agenda ini juga dirangkaikan dengan Diskusi Publik dalam rangka memperingati International Women’s Day (IWD). Diskusi yang bertajuk “Krisis Imperialisme dan Kekerasan Berlapis pada Perempuan” ini menghadirkan dua pemateri, Lina Turrohmaniyah dan Khanan Saputra.

“Diskusi publik ini sengaja digelar untuk menyambut Hari Perempuan sekaligus memantik kesadaran para pemuda bahwa kondisi perempuan saat ini masih kerap mengalami ketertindasan,” ungkap Izzur, aktivis Lapak Baca UMP.

Acara yang dimulai pukul 17.00 WIB hingga ba’da Maghrib ini berlangsung dinamis. Dalam jalannya diskusi, yang menjadi fokus adalah kondisi ketertindasan perempuan dan kondisi krisis di dunia internasional yang sedang terjadi sekarang ini dikupas oleh dua pemateri dan juga oleh audiens yang turut menanggapi saat diskusi berlangsung.

Lina Turrohmaniyah menambahkan bahwa kekerasan yang dialami perempuan saat ini bukan sekadar masalah domestik, melainkan hasil dari sistem yang timpang.

“Perempuan hari ini menghadapi beban berlapis. Di satu sisi, mereka terjepit oleh tuntutan ekonomi akibat krisis global, dan di sisi lain, mereka masih harus berhadapan dengan stigma serta budaya patriarki yang langgeng karena didukung oleh sistem kekuasaan yang tidak memihak. International Women’s Day (IWD) harus menjadi momentum untuk menyuarakan bahwa hak perempuan adalah hak asasi yang harus diperjuangkan secara kolektif, bukan sekadar komoditas perayaan tahunan,” ujar Lina.

Dalam paparannya, Khanan Saputra menekankan pentingnya sudut pandang yang lebih luas dalam melihat isu perempuan.

“Berbicara mengenai ketertindasan perempuan, kita harus mampu melampaui sekadar analisis gender. Analisis gender tetap diperlukan, namun harus dibersamai dengan analisis kelas. Terlebih dalam kondisi imperialisme yang sedang krisis, pembedahan masalah secara mengakar sangat dibutuhkan. Tanpa upaya menghancurkan imperialisme, pembicaraan mengenai kesetaraan gender hanya akan terjebak pada perubahan yang semu,” pungkas Khanan.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Redaksi Temenan

Kalau ada typo, itu bukan salah kami—itu seni. Kalau ada yang tersinggung, anggap aja efek samping membaca kebenaran dengan bumbu cabe rawit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *