Bulan Bahasa UMP 2025: Helo Bagas dan Mulasih Tary Ajak Mahasiswa Menulis dengan Jujur

Purwokerto, 2 Oktober 2025 – Suasana Aula Syamsuhadi Tower lantai 10 Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) pada Kamis (2/10) dipenuhi antusiasme mahasiswa. Ratusan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) hadir untuk menyambut penulis muda sekaligus konten kreator populer, Helo Bagas, yang diundang sebagai pembicara utama dalam Seminar Nasional Bulan Bahasa 2025.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian tahunan peringatan Bulan Bahasa di UMP dengan tema besar “Estetika Sastra Gaungkan Cinta Bahasa”. Sejak pagi, mahasiswa tampak memenuhi ruangan, disambut pula oleh Kaprodi PBSI, Akhmad Fauzan, M.Pd., serta Dekan FKIP, Dr. Elly Hasan Sadeli. Ketua panitia, Asti Tiana Ningrum, mengatakan tema tersebut dipilih untuk menyalakan kembali kecintaan generasi muda pada bahasa dan sastra Indonesia. “Kami ingin mahasiswa tidak hanya mengapresiasi, tapi juga melestarikan bahasa dan sastra lewat karya nyata,” ujarnya.

Selain seminar, Bulan Bahasa tahun ini juga diwarnai agenda besar lain, mulai dari Olimpiade Siswa dan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, Gerakan Cinta Bahasa dan Sastra Indonesia (GCBSI), hingga Gema Mahasiswa. Total lebih dari 130 peserta mengikuti kompetisi yang melibatkan perwakilan dari 14 provinsi. Hampir seluruh rangkaian acara dirancang dan dikelola oleh mahasiswa sendiri, dengan dosen hanya mendampingi secara teknis. Tahun ini, panitia menghadirkan dua narasumber utama: Helo Bagas serta Mulasih, M.Pd., dosen PBSI UMP yang juga dikenal luas dengan nama pena Mulasih Tary dan aktif menulis karya sastra populer di kalangan generasi muda.

Kehadiran Helo Bagas menjadi momen yang paling ditunggu. Dikenal lewat karya best seller seperti Nanti Juga Sembuh Sendiri dan Nanti Juga Terbiasa, ia juga sukses membangun podcast Kita & Waktu yang menempati peringkat pertama di Spotify Indonesia dengan 96 juta pemutaran. Kanal YouTube Cerita Sebelum Tidur miliknya telah meraih lebih dari 1,3 juta pelanggan, sementara jutaan orang mengikuti aktivitasnya di Instagram dan TikTok.

Di hadapan mahasiswa, Helo Bagas menekankan bahwa menulis bukan hanya soal bakat, tetapi tentang keberanian, konsistensi, dan kejujuran. “Menulis adalah bawaan setiap manusia. Kita semua punya perasaan, jadi tulislah apa yang kita rasakan. Menulis itu suara paling sunyi, tapi bisa berteriak paling kencang,” ungkapnya.

Ia juga mendorong mahasiswa untuk membangun kebiasaan membaca sebelum menulis. “Membaca itu seperti mendapatkan teman baik. Dari sana kita bisa memperluas wawasan, menambah kosakata, bahkan lebih mengenal diri sendiri,” katanya. Bagas mengaku membaca buku membantunya menghadapi kesepian, membuka pikiran, dan membuatnya lebih ramah terhadap diri sendiri.

Cerita perjalanan kariernya pun memantik semangat peserta. Bagas mengaku memulai semuanya dari kebiasaan merekam suara sendiri di kamar. Meski awalnya diremehkan, ia tetap konsisten mengunggah karyanya meski hanya ditonton sepuluh orang. Dukungan seorang teman membuatnya percaya diri hingga akhirnya karyanya viral dan membuka jalan menuju kesuksesan. Ia bahkan pernah mendapat undangan dari Spotify Singapura untuk menerima penghargaan atas karyanya.

“Kalian tidak perlu mulai dari kafe atau tempat keren. Cukup di kamar, cukup di depan kaca. Bicara dengan diri sendiri lalu tuliskan perasaan itu,” pesannya. Ia juga menegaskan bahwa dirinya hingga kini masih membalas satu per satu pesan dari para pengikutnya dan tidak menyerahkan akun media sosialnya kepada tim. Baginya, menjaga kedekatan dengan audiens adalah bagian penting dari kejujuran dalam berkarya.

Sesi tanya jawab yang digelar di akhir acara menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menggali lebih banyak inspirasi. Pertanyaan seputar tips menulis, menjaga konsistensi, hingga cara menghadapi komentar negatif dijawab dengan gaya sederhana namun mengena oleh Bagas. Amanda, salah satu panitia, menyebut bahwa alasan memilih Helo Bagas sebagai narasumber adalah karena ia mampu menjembatani dunia literasi dengan media digital yang sangat dekat dengan mahasiswa. “Beliau produktif menulis dan mampu menginspirasi generasi muda lewat berbagai platform,” ujarnya.

Bagi banyak mahasiswa, kehadiran Helo Bagas menjadi penyemangat baru dalam menekuni dunia literasi. Antusiasme yang terlihat sepanjang acara membuktikan bahwa Bulan Bahasa di UMP bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan momentum penting untuk menumbuhkan kembali cinta terhadap bahasa, sastra, dan karya kreatif di era digital.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Redaksi Temenan

Kalau ada typo, itu bukan salah kami—itu seni. Kalau ada yang tersinggung, anggap aja efek samping membaca kebenaran dengan bumbu cabe rawit.

One thought on “Bulan Bahasa UMP 2025: Helo Bagas dan Mulasih Tary Ajak Mahasiswa Menulis dengan Jujur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *