
Novel Jiwa Hana (2024) merupakan karya fiksi yang ditulis oleh Irfan Nugraha, penulis muda Indonesia yang lahir dan dibesarkan di Purwokerto, Banyumas. Novel ini boleh dikatakan menyuguhkan cerita yang padat, mengalir, dan sarat pesan kehidupan, terutama menyangkut perasaan, luka batin, dan proses penyembuhan jiwa.
Secara fisik, buku ini hadir dalam bentuk cetakan dengan desain sampul yang estetik dan mencerminkan suasana batin dalam cerita. Jiwa Hana termasuk dalam kategori novel roman kontemporer yang ditulis menggunakan gaya bahasa yang lugas namun puitis, sehingga sangat mudah dipahami dan dinikmati oleh pembaca dari berbagai kalangan usia, khususnya remaja dan dewasa muda.
Irfan Nugraha, sebagai pengarang, berhasil menyampaikan konflik dan karakterisasi tokohnya dengan mendalam, menjadikan novel ini tidak hanya sekadar kisah cinta biasa, tetapi juga sebagai refleksi perjalanan jiwa seseorang dalam menghadapi kehilangan dan harapan. Oleh karena itu, kami merekomendasikan Jiwa Hana kepada masyarakat luas sebagai bacaan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menyentuh perasaan dan memberikan pemahaman baru tentang pentingnya merawat kesehatan mental dan hati dalam kehidupan sehari-hari—dan di titik inilah ia memuat aspek dulce et utile sebagaimana dikatakan Horace jauh-jauh hari.
Cinta dalam Lika-Liku Hidup Manusia
Dalam membicarakan novel karya Irfan Nugraha ini, kita dapat memulai dari pertanyaan, “Apakah cinta sejati benar-benar ada? Ataukah ia sekadar bayang-bayang samar yang diciptakan oleh harapan dan kesepian manusia?” Pertanyaan itu akan menggema dalam benak siapa pun yang pernah jatuh cinta dan terluka karenanya. Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, cinta sering kali muncul sebagai janji yang manis, namun tak jarang juga berubah menjadi luka yang dalam. Jiwa Hana, novel karya Irfan Nugraha, hadir untuk mengaduk kembali tanya-tanya purba tentang cinta melalui alur yang emosional, rumit, dan menggugah. Dengan latar yang memadukan realitas dan sisi terdalam psikologi tokohnya, novel ini menantang pembaca untuk merenungi: Apakah cinta sejati benar-benar ditemukan? Atau hanya diyakini karena manusia ingin mempercayainya?
Melalui tokoh-tokoh yang terluka dan penuh konflik batin, Jiwa Hana tidak hanya menawarkan kisah asmara biasa, tetapi juga mengajak pembaca menyelami makna eksistensi cinta dalam kehidupan manusia. Pertentangan antara logika dan perasaan, antara kenangan dan harapan, menjadikan kisah ini begitu hidup dan relevan. Dengan gaya penceritaan yang intens dan reflektif, Irfan menyuguhkan narasi yang tidak hanya menyentuh hati, tetapi juga menggugah akal. Inilah sebuah karya sastra yang layak dibedah, bukan hanya karena kisah cintanya, tetapi karena keberaniannya mempertanyakan sesuatu yang selama ini dianggap mutlak: Apakah cinta sejati sungguh ada? Atau kita sendirilah yang menciptakannya karena takut pada kehampaan?
Sang penulis, Irfan Nugraha, atau Irfan M. Nugraha, lahir dan dibesarkan di Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah. Ia adalah alumnus Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP). Selain menulis prosa, sejumlah karya Irfan bergenre puisi juga bisa ditemukan pada sejumlah media massa semacam SKSP-Literary.com dan lainnya. Kini, ia menjadi CEO Majas Indonesia yang merupakan tempat produksi parfum untuk beberapa brand lokal parfum di Indonesia.Meski informasi mendalam mengenai latar belakang pendidikan maupun profesi lainnya belum banyak dipublikasikan, termasuk trajektori kreatifnya, Irfan menunjukkan kemampuan kepenulisannya melalui gaya naratif yang kuat dan emosional dalam novel Jiwa Hana—ia menghadirkan kisah yang menyentuh, dengan penggunaan bahasa yang lugas dan mudah dipahami oleh pembaca.
Penulisan yang ia tampilkan tidak hanya menyuguhkan alur cerita yang mengalir, tetapi juga berhasil membangun suasana serta kedalaman psikologis dari tokoh-tokoh yang ada. Dengan ketebalan buku sekitar 185 halaman, Jiwa Hana menunjukkan keseriusan Irfan dalam dunia literasi populer. Irfan tampak memiliki potensi besar untuk terus berkembang sebagai penulis yang mengangkat isu-isu relevan di tengah dinamika sastra Indonesia modern. Gaya penulisannya yang menyentuh sisi emosional pembaca menjadikan karyanya mudah diterima, terutama di kalangan generasi muda yang menyukai cerita dengan tema percintaan yang realistis. Berdasarkan hal tersebut, kami berpendapat bahwa Irfan adalah salah satu penulis yang patut diperhitungkan dalam dunia sastra Indonesia saat ini, terutama dalam genre prosa berbentuk novel yang dekat dengan kehidupan sehari-hari pembaca.
Dalam Jiwa Hana, Irfan menyajikan kisah reflektif tentang remaja, kehilangan, dan pencarian makna hidup. Novel ini membawa pembaca masuk ke dalam dunia batin dua tokoh, yaitu Adin dan Ikhsan, dua remaja laki-laki yang pada mulanya tampak berbeda, namun ternyata saling melengkapi dalam proses tumbuh dan menyembuhkan luka masing-masing. Adin adalah siswa pendiam yang menjalani keseharian sekolahnya dalam keheningan dan rasa kosong. Tidak banyak yang tahu tentang apa yang berkecamuk di dalam dirinya. Hidupnya berubah ketika ia bertemu dengan Ikhsan, teman satu sekolah yang memiliki kepribadian unik.
Ikhsan sendiri dikenal sebagai sosok yang tenang, suka membaca buku, berpikiran dalam, dan menyukai musik blues—musik yang penuh kesan sendu namun menyembuhkan. Mereka mulai menjalin hubungan karena merasa cocok, sama-sama senang berpikir, mengamati, dan merasakan dunia dalam diam. Dari pertemanan yang tenang itu, tumbuhlah ikatan yang kuat, sebuah persahabatan yang bukan hanya menjadi tempat berbagi cerita, tetapi juga ruang aman untuk saling belajar tentang diri sendiri dan kehidupan. Hanya saja, Ikhsan bukanlah sosok biasa. Di balik keheningan dan ketenangannya, ia menyimpan kisah yang membentuk jiwanya, yaitu kisah tentang seorang perempuan bernama Hana.
Tempat Kembali itu Bernama ”Puisi”
Bagi Ikhsan, Hana bukan hanya seseorang yang ia kagumi secara diam-diam. Hana adalah simbol dari cinta yang tulus, sumber inspirasi, dan pada akhirnya menjadi luka yang tak pernah benar-benar tersembuhkan. Ikhsan, yang dulu dikenal nakal, sering bolos, dan suka berkelahi, justru menemukan ketenangan dan makna dalam hidup ketika mengenal Hana. Dari gadis pendiam itu, ia menemukan sisi lembut dalam dirinya sendiri. Cinta yang tumbuh dalam diam itu membuat Ikhsan berubah. Ia mulai menulis puisi, sesuatu yang sebelumnya tak pernah ia lakukan. Kata-kata menjadi tempatnya berlabuh, menumpahkan kerinduan dan harapan yang tak sempat disampaikan.
Hubungan antara Ikhsan dan Hana tidak pernah menjadi kisah cinta yang utuh. Meski Ikhsan mencintai Hana dengan tulus, Hana sendiri tampak tak pernah memberikan kepastian. Ia sering bersikap cuek, meski tersirat bahwa perasaannya tidak sepenuhnya dingin. Namun, seperti banyak cinta di usia muda, hubungan mereka tak sempat berkembang lebih jauh. Ikhsan harus pindah sekolah, dan sejak saat itu, hanya kenangan yang tinggal. Kerinduan semakin menumpuk. Ikhsan bahkan sering datang ke sekolah lama Hana hanya untuk melihatnya sekilas. Harapan terakhirnya datang pada hari kelulusan Hana. Ia datang, berharap bisa bertanya tentang masa depan Hana, agar ia bisa tetap berada di sisinya. Namun, Hana tidak pernah muncul. Ia menghilang, tanpa jejak, tanpa penjelasan.
Kehilangan itu menjadi luka yang dalam. Akan tetapi seperti yang biasa dilakukan Ikhsan, ia kembali pada puisinya. Menulis menjadi cara untuk tetap menyimpan Hana di dalam dirinya. Puisi-puisi itu bukan hanya ungkapan cinta, tapi juga bentuk perlawanan terhadap keputusasaan. Lewat tulisan, Ikhsan menyelamatkan jiwanya sendiri dari kehancuran. Ia belajar bahwa tidak semua cinta harus dimiliki, bahwa kehilangan pun bisa membentuk dan menumbuhkan.
Lewat novel ini, diperlihatkan pentingnya ruang batin dalam kehidupan remaja. Dalam diam pun, seseorang bisa menyimpan gemuruh yang luar biasa. Irfan, mungkin ingin mengatakan bahwa menjaga kesehatan jiwa sama pentingnya dengan menjaga tubuh. Banyak dialog reflektif, kutipan puitis, dan pemikiran mendalam tentang hidup, cinta, ambisi, dan penerimaan yang disisipkan dalam alur cerita, membuat pembaca tak hanya menyelami narasi, tetapi juga merenunginya—karena itulah, boleh dikatakan bahwa novel Jiwa Hana bukan sekadar kisah cinta atau persahabatan, melainkan potret tentang bagaimana seseorang bisa berubah karena kasih, bagaimana makna kehilangan dapat menjernihkan cara kita memandang dunia, dan bagaimana kesunyian pun bisa menjadi ruang untuk menyembuhkan. Melalui puisi, percakapan, dan keheningan yang dalam, novel ini mengajak kita memahami bahwa beberapa hal dalam hidup tidak untuk dimiliki, melainkan untuk dikenang, dirasakan, dan diterima sepenuh hati. Lihatlah ratapan Ikhsan di tengah hujan, di hadapan kepergian Hana berikut ini.
kau mengirim hujan padaku, Hana
sementara jarak adalah jalan waktu, sempatkah angin menyusur laut dan menembus asin garam hingga ke pesisir jantungnmu?
seperti orang-orang menaiki bukit tandus aku mengutus doa-doa purbani, agar sampai sebagai resapan udara yang masuk ke dalam tubuhmu, dan mereka akan menjelma suara ketukan pada tiap pintu di dalam daging, untuk menyampaikan
rindu paling rahasia.
batin telah lama menjelma pintu, Hana
tapi pesan itu menjelma bisik yang mengaung
melelehkan gumpalan batu-batu ego di dalam tubuhku
atau biarkan aku menanam benih kerinduan di sini
yang suatu ketika, akan rekah
tanpa sua, tanpa airmata.
datanglah, Hana
sebab aku sudah hampir terbakar
di sepasang matamu
teteskan airmata untuk memadamkan api itu
sebab telah kurasakan sunyi di antara tiang-tiang derita dan lonceng perasaan
ketika kau berjalan, ke arah yang lain. (hlm. 52-53)
Jiwa Hana dan Isu Kesehatan Mental di Sekitar Kita
Di tengah dunia yang semakin cepat, penuh tekanan, dan kompetisi yang tak pernah berhenti, Jiwa Hana karya Irfan Nugraha hadir sebagai napas lembut yang mengingatkan kita akan pentingnya ruang batin, keheningan, dan perasaan-perasaan yang sering diabaikan. Menurut Shalsabilla dkk. (2023), kesadaran diri (self-awareness) yang kuat menjadi salah satu penjaga jiwa, mengurangi kecenderungan melakukan self-harm. Inilah pentingnya ruang batin dan keheningan sebagai momen introspeksi diri. Novel ini begitu relevan dengan kehidupan masa kini karena tidak hanya berbicara soal cinta, tetapi juga tentang persahabatan, kesehatan mental, dan proses mengenal diri sendiri—isu-isu yang sangat dekat dengan realitas anak muda zaman sekarang.
Mencintai diri sendiri berarti menghargai, menerima, dan merawat pribadi secara utuh. Pilihan-pilihan demikian dapat membentuk persepsi positif terhadap diri. Dengan demikian, orang akan lebih mudah memahami kebutuhan emosionalnya dan mampu mengatasi tekanan hidup dengan cara yang lebih sehat, serta menjaga stabilitas mental, terutama pada masa remaja yang rentan mengalami krisis identitas. Membangun ruang untuk diri melalui self‑love, bagaimanapun bisa memperbaiki kesejahteraan mental remaja (Zainab dkk., 2024), dan itu sejalan dengan gagasan novel yang menekankan keheningan dan ruang batin.
Menurut Winarko (2024), gejala kecemasan sosial lebih sering terjadi pada remaja yang menggunakan media sosial terlalu banyak. Hal ini terutama disebabkan oleh ketakutan untuk tertinggal dari informasi atau aktivitas sosial yang terjadi di dunia maya. Remaja mengalami efek negatif pada kesehatan mental mereka setelah mengalami tekanan konstan untuk terlihat aktif dan “terhubung” di media sosial. Temuan ini sangat berkaitan dengan situasi yang digambarkan dalam Jiwa Hana, di mana tokoh-tokohnya menghadapi kecemasan dan tekanan sosial yang serupa setiap hari.
Novel Jiwa Hana menyoroti perjalanan emosional remaja dalam menghadapi cinta pertama, kehilangan, dan pencarian jati diri. Dalam kehidupan modern, banyak remaja mengalami kesulitan mengelola emosi mereka. Perasaan seperti cemas, kesepian, atau tidak cukup baik sering kali muncul karena tekanan akademik, sosial media, dan ekspektasi lingkungan. Melalui tokoh Ikhsan dan Adin, Irfan selaku penulis memperlihatkan bahwa setiap orang punya cara unik untuk menyembuhkan dirinya. Ikhsan menulis puisi untuk menenangkan luka batinnya, dan Adin menemukan ketenangan lewat pertemanan yang tulus. Ini sangat mencerminkan kebutuhan remaja saat ini akan ruang ekspresi diri yang aman dan jujur, tanpa manipulasi-manipulasi berorientasi kepentingan praktis.
Novel ini menyampaikan pesan kuat tentang pentingnya kesehatan mental dan dukungan emosional. Dalam dunia yang menuntut produktivitas dan pencitraan, banyak orang, terutama remaja, merasa sulit untuk jujur tentang perasaan mereka. Ikhsan dan Adin adalah dua contoh tokoh yang berani berdamai dengan sisi rentan mereka. Mereka saling berbagi, berdiskusi, bahkan berdiam bersama dalam kesunyian yang menyembuhkan. Isu ini sangat relevan, mengingat pembicaraan-pembicaraan tentang kesehatan mental mulai mendapatkan perhatian lebih luas, namun belum sepenuhnya dipahami sebagai kebutuhan dasar dalam pendidikan maupun kehidupan sosial.
Tema kehilangan dan ketulusan adalah dua hal yang sering kali tak terlihat tetapi sangat membentuk perjalanan seseorang, termasuk para tokoh dalam Jiwa Hana. Di era digital, ketika relasi antarmanusia semakin cepat dan dangkal, novel ini justru menekankan pentingnya rasa, waktu, dan kedalaman dalam membangun hubungan. Ikhsan mencintai Hana dengan tulus, tanpa paksaan dan tanpa ekspektasi balasan yang berlebihan. Ia menerima kehilangan, bukan dengan amarah, tetapi dengan pemahaman. Ini mengajarkan bahwa dalam hidup, tak semua hal bisa kita miliki, namun semua hal bisa kita maknai.
Selain itu, novel ini menyentuh aspek spiritualitas-emosional tentang bagaimana cinta, persahabatan, dan keheningan bisa menjadi bentuk doa, perenungan, dan penyelamatan jiwa. Senada dengan pandangan Wulandari dan Djumingin (2021) dalam kajian humanistik novel Cinta dalam Diam, keheningan digunakan tokoh sebagai media introspeksi dan pemenuhan kebutuhan spiritual. Keheningan ini mencerminkan kebutuhan untuk refleksi batin mirip seperti doa dan penyelamatan jiwa. Ini penting di masa sekarang, ketika banyak orang terhubung secara fisik, tetapi kehilangan hubungan emosional yang mendalam. Buku ini mengingatkan bahwa dalam setiap pertemanan yang jujur, dalam setiap kata yang ditulis dari hati, dan dalam setiap kehilangan yang kita ikhlaskan, ada ruang pertumbuhan dan penyembuhan yang tidak bisa dibeli dengan apa pun.
Novel Jiwa Hana karya Irfan Nugraha adalah kisah yang sangat relevan dengan zaman ini. Ia tidak hanya bicara tentang remaja dan cinta, tapi juga tentang kemanusiaan, keheningan, dan kekuatan batin untuk bertahan. Ia menyuarakan hal-hal yang tak terucap dalam kehidupan sehari-hari, dan memberi ruang bagi pembaca muda untuk merasa dipahami, ditemani, dan dikuatkan. Dalam dunia yang penuh suara dan tuntutan, novel ini hadir seperti ruang sunyi yang menenangkan, tempat di mana jiwa yang lelah bisa sejenak beristirahat dan mengingat kembali siapa dirinya.
***
Kita patut mengapresiasi gaya penggambaran karakter yang kuat dan realistis dalam Jiwa Hana. Tokoh Ikhsan, ditampilkan sebagai remaja yang pada awalnya dikenal nakal, suka membolos, dan berandalan. Namun, di balik sikap kasarnya, ada sisi lembut yang muncul ketika ia mengenal Hana. Perubahan dalam diri Ikhsan ditampilkan secara perlahan dan alami tidak dibuat-buat. Ia berubah bukan karena paksaan, tapi karena perasaan. Begitu pula Adin, yang digambarkan sebagai sosok sunyi yang menemukan teman sejati dalam diri Ikhsan. Kedua tokoh ini membuat cerita terasa hidup karena mereka terasa nyata dan bisa saja mewakili orang-orang yang pernah kita temui di dunia nyata.
Selain itu, isu kesehatan mental, keheningan, dan penerimaan diri yang dikemukakan sebagai isu-isu sentral dalam novel ini, juga layak diberi perhatian oleh para pembaca. Penerimaan diri pada remaja menunjukkan peran penting dalam membangun kesehatan mental, di mana individu mampu menerima kondisi fisik dan emosionalnya, sebagai dasar ketahanan diri (Ulfa dan Netrawati, 2024). Di era sekarang, banyak remaja yang menghadapi tekanan besar baik dari lingkungan, keluarga, maupun media sosial. Novel Jiwa Hana mengajak pembaca untuk menyadari pentingnya mendengarkan suara hati, menghargai kesunyian, dan menerima bahwa tidak semua luka harus segera sembuh.
Melalui perjalanan emosional para tokohnya, novel ini seperti menyentuh sisi terdalam manusia yang sedang berjuang untuk tetap kuat di tengah badai hidup. Dan yang tak kalah penting, novel ini sarat dengan pesan moral dan refleksi kehidupan. Ia tidak menyuguhkan cerita cinta yang penuh drama atau konflik berlebihan, tapi justru menawarkan keindahan dalam kesederhanaan—bahwa mencintai seseorang tak selalu harus memiliki; bahwa pertemanan bisa menjadi tempat penyembuhan; bahwa kehilangan bukan akhir dari segalanya, melainkan bagian dari proses menjadi manusia yang lebih bijak dan berjiwa kuat.
Sedikit Catatan untuk Jiwa Hana
Novel Jiwa Hana karya Irfan Nugraha memang menyuguhkan tema yang relevan dan menyentuh. Akan tetapi, bagi kami, terdapat sejumlah cela yang patut diberi catatan. Pertama, alur cerita yang terasa lambat di beberapa bagian. Gaya penceritaan yang cenderung reflektif dan penuh narasi batin memang memperkuat suasana, tetapi bisa membuat pembaca merasakan kedataran cerita, yang tidak segera masuk ke konflik utama. Hal ini mungkin menyulitkan pembaca remaja yang lebih menyukai alur cepat dan dinamis.
Selain itu, yang kedua, tokoh Hana yang menjadi inspirasi utama bagi Ikhsan justru tidak digambarkan secara mendalam. Karakter Hana hanya muncul dalam kilas balik dan puisi, tanpa benar-benar memiliki ruang untuk berkembang secara aktif dalam cerita, padahal perannya sangat penting dalam membentuk emosi dan perjalanan batin tokoh utama. Ia seperti hanya dijadikan sebagai simbol inspirasi atau objek perasaan, tanpa diberikan kesempatan untuk tampil sebagai individu yang memiliki suara dan konflik sendiri. Kami melihat, akan lebih menarik dan seimbang andaikata tokoh perempuan juga digambarkan lebih aktif dan kompleks, sehingga pembaca bisa memahami kisah dari berbagai sudut pandang. Dengan kepasifan yang ditunjukkan tokoh Hana, bisa saja pembaca yang lebih kritis akan menilai bahwa ada bias atau ketimpangan gender yang berlaku dalam novel ini.
Catatan-catatan yang kami sampaikan ini, tentu bertujuan untuk memberikan kemungkinan respons-respons terbaru yang berkaitan dengan intrinsik dan ekstrinsik dari novel Jiwa Hana. Dengan demikian, tercipta dialog atau pembicaraan-pembicaraan baru tentangnya, yang akan merawat hayat dari novel terkait, atau dengan kata lain menarik perhatian-perhatian baru dari pembaca yang lebih luas.
Akhir kata, kembali kami katakan bahwa membaca novel Jiwa Hana karya Irfan Nugraha serupa perjalanan menyusuri lorong-lorong jiwa yang kadang sunyi, kadang hangat, kadang pahit, tetapi selalu menampakkan sisi-sisi kemanusiawian. Di akhir cerita, kita mungkin tidak mendapatkan akhir bahagia seperti dalam dongeng, tetapi kita mendapat sesuatu yang lebih nyata, seperti pemahaman bahwa hidup tidak selalu menawarkan kepastian, namun kita selalu bisa memilih untuk merawat rasa dengan sabar, dengan puisi, dan dengan hati yang terus belajar. Ya, dan di sanalah letak kekuatan novel ini yang tidak menawarkan cara hidup berupa pelarian dari kenyataan, tetapi pelukan lembut yang membuat pembacanya merasa dipahami. Dalam dunia yang kadang terasa dingin dan penuh tuntutan ini, akan selalu ada tempat untuk jiwa yang ingin pulih, mencinta, dan mengenang—mungkin saja itu puisi-puisi, atau dalam bentuk yang lainnya.

Identitas Buku:
Judul : Jiwa Hana
Penulis : Irfan Nugraha
Penerbit : Selat Media
Kota penerbit : Yogyakarta
Tahun terbit : Juli 2024
Ketebalan : x + 186 halaman
ISBN : 978-602-8749-07-7
Referensi:
Shalsabilla, R. C. P., Pratikto, H., & Aristawati , A. R. (2023). “Self Injury pada Dewasa Awal: Bagaimana Peranan Self Awareness?”. INNER: Journal of Psychological Research, 2 (4), 764–771.
Ulfa, L. A., & Netrawati, N. (2024). “Kondisi Penerimaan Diri Fisik dan Kesehatan Remaja”. Jurnal Pendidikan Tambusai, 8 (2), 35660–35666.
Winarko, H. B. (2024). “Kecemasan Digital: Penggunaan Media Sosial dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental Remaja Indonesia”. Soetomo Communication and Humanities, 4 (1), 12-19.
Wulandari, S., & Djumingin, S. (2021). “Aspek Kepribadian Tokoh Novel Cinta dalam Diam karya Shineeminka: Kajian Psikologi Humanistik”. Titik Dua: Jurnal Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, 1 (1), 1-18.
Zainab, S., Aridhona, J. ., & Dilariza, S. (2024). “Menciptakan Ruang Untuk Diri Sendiri: Menggali Kesehatan Mental Melalui Self-Love”. Jurnal Abdimas Bina Bangsa, 5 (2), 1653-1661.




Senang rasanya ada yg bahas dia, kebetulan dikirimi link web ini sama temen. Buku ini pernah cetak sblmnya dalam bentuk stensil (tidak ber isbn) di 2011 an. Irfan salah satu tokoh penting estafet sastra UMP era 2011-2018 an. Lebih fokus ke puisi dan cerpen. Pendiri Penyair Institute. Susah bgt dihubungi. Temen terbaik buat sharing. Masih ngemong nulis puisi sama cerpen ke bocah² sekolah terutama yg nakal² bolos sekolah di warung² kopi. Kata dia metode terbaik biar bocah sekolah nakal biar lurus lagi ya suruh baca dan nulis. Orangnya memang misterius tp baik bgt. Kalau lihat cwo pake jaket kanvas/jeans sambil ngudud lihatin jembatan/rel kereta yg gantung diatas sungai Serayu, di jalan yg mau ke bendungan serayu, ya itu dia. Coba sesekali ngobrol sama dia, daging bgt dan orangnya enakan. Sayangnya dia terjebak nyaman dengan kesunyiannya. Cari penyair yg namanya Adhy Pramudya atau Galuh Kresno yg tau kontaknya. Pokoknya sesekali harus ngobrol langsung sama dia.
Salam dari Jakarta.