Meta Superintelligence Labs: Kapitalisme yang Mengganti Manusia dengan Algoritma

Mark Zuckerberg membentuk Meta Superintelligence Labs, merekrut otak-otak terbaik dunia. Diantara tokoh AI ternama yang baru direkrut, termasuk mantan CEO Scale AI, Alexandr Wang, dan mantan CEO GitHub, Nat Friedman. Publik melihatnya sebagai langkah maju teknologi. Tapi saya melihatnya sebagai fragmen dari drama besar: kapitalisme yang sedang mengganti manusia dengan algoritma.

Kita dulu percaya bahwa perebutan sumber daya adalah soal tanah, emas, atau minyak. Hari ini, sumber daya itu adalah pikiran. Bukan pikiran dalam arti filosofis, tapi pikiran yang bisa dikapitalisasi: kemampuan coding, algoritma, machine learning. Otak manusia dijadikan komoditas. Meta, OpenAI, Google—semuanya sedang bersaing, bukan untuk menciptakan kebenaran, tapi untuk menciptakan monopoli kecerdasan.

Ironinya, kecerdasan buatan diciptakan oleh kecerdasan manusia, tapi kelak bisa menghapus relevansi manusia itu sendiri. Di tangan kapital, AI bukan lagi alat untuk membebaskan, tapi untuk menaklukkan. Zuckerberg tidak sedang menciptakan masa depan untuk semua orang; dia sedang menciptakan masa depan yang hanya dia kendalikan.

Bayangkan: sinetron buatan AI, aktornya AI, penontonnya AI. Manusia hanya penonton pasif dari dunia yang pernah mereka ciptakan. Ini seperti mitos Yunani tentang Pygmalion, tapi versi modern yaitu pencipta jatuh cinta pada ciptaannya, lalu lupa bahwa ciptaan itu bisa menggantikannya.

Pertanyaannya sederhana: ketika algoritma bisa bekerja tanpa lelah, kapan kapitalisme akan berhenti membayar manusia? Jawabannya: ketika manusia tak lagi berguna bagi keuntungan. Di situ, manusia menjadi outdated software.

Teknologi seharusnya membebaskan, tapi di tangan pemilik modal besar, ia berubah menjadi instrumen dominasi. Zuckerberg sedang membangun kerajaan algoritma, dan kita—yang sibuk membayar kos, mengeluh WiFi lemot—mungkin hanya akan menyadari bahwa kita hidup di pinggiran sejarah yang sedang ditulis oleh mesin.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Redaksi Temenan

Kalau ada typo, itu bukan salah kami—itu seni. Kalau ada yang tersinggung, anggap aja efek samping membaca kebenaran dengan bumbu cabe rawit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *