
Purwokerto kembali menjadi pusat perhatian dunia seni dengan digelarnya Banyumas Aesthetic Soetedja 2025, sebuah rangkaian acara yang memadukan puisi, teater, film, hingga pameran seni rupa. Kegiatan ini akan berlangsung sepanjang Oktober hingga awal November 2025, dengan berbagai agenda kreatif yang melibatkan komunitas seni, pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum.
Festival ini mengambil nama dari Gedung Kesenian Soetedja, ikon kesenian Banyumas yang selama ini menjadi wadah seniman lokal menampilkan karya-karyanya. Dengan mengusung semangat kolaborasi, acara ini menjadi ruang ekspresi bagi generasi muda untuk menunjukkan bahwa Banyumas bukan hanya kaya budaya, tetapi juga kaya kreativitas.
Agenda Penuh Warna dari Akhir September hingga November
Rangkaian acara Banyumas Aesthetic Soetedja 2025 dibuka dengan Pertunjukan Puisi Maximum pada 30 September di Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Acara ini menjadi momentum awal bagi para penikmat sastra untuk merayakan kekuatan kata-kata dalam bentuk pertunjukan yang penuh emosi dan makna.
Kegiatan berlanjut dengan Pesta Sinema Festival Film Banyumas 2025 yang digelar pada 2–3 Oktober di kampus yang sama. Ajang ini menampilkan karya-karya film pendek dari sineas muda Banyumas dan sekitarnya, menyoroti isu sosial, budaya, hingga potret kehidupan khas masyarakat Banyumasan. Melalui festival film ini, para pembuat film lokal berkesempatan menunjukkan karya mereka kepada publik yang lebih luas.
Tak kalah menarik, Pentas Teater Kie Bae “Mencari Kepala” akan digelar pada 11 Oktober di Amikom Purwokerto. Pertunjukan ini disebut-sebut sebagai bentuk teater kontemporer dengan sentuhan lokal yang menggugah kesadaran tentang identitas manusia modern di tengah perubahan sosial.
Sementara itu, Pameran Seni Rupa dan Lomba Mewarnai yang akan berlangsung pada 22–26 Oktober di Hetero Space Purwokerto menjadi ruang bagi seniman visual dan anak-anak untuk berkreasi bersama. Tema yang diangkat adalah keindahan Banyumas dalam perspektif generasi baru.
Panggung Sastra dan Teater di Penghujung Bulan
Menjelang akhir Oktober, penikmat seni akan disuguhkan dengan Pementasan & Pelatihan Penulisan Puisi pada 27 Oktober serta Pentas Teater “Kembang Mangsang Peralihan” pada 29 Oktober. Kedua acara ini akan dilangsungkan di Gedung Kesenian Soetedja, dan menjadi puncak refleksi atas dinamika kesenian lokal yang terus tumbuh.
Sebagai penutup, pada 8 November 2025, Pentas Teater “Gendhakan” akan menjadi klimaks dari seluruh rangkaian Banyumas Aesthetic Soetedja 2025. Pertunjukan ini diharapkan menyatukan berbagai elemen seni—dari naskah, gerak, musik, hingga rupa—dalam satu harmoni yang merepresentasikan jiwa Banyumas yang ramah dan terbuka terhadap perubahan.
Mendorong Regenerasi Seniman Muda Banyumas
Menurut sejumlah penggiat seni di Purwokerto, festival ini bukan sekadar ajang hiburan, melainkan juga sarana pembelajaran. Para mahasiswa dan seniman muda berkesempatan berkolaborasi dengan pelaku seni berpengalaman, sehingga tercipta transfer pengetahuan lintas generasi. Dalam beberapa tahun terakhir, geliat komunitas seni di Banyumas memang meningkat tajam, terutama setelah adanya ruang kreatif seperti Hetero Space dan berbagai inkubator seni yang didukung kampus serta pemerintah daerah.
Acara ini juga menjadi wadah penting bagi pelaku ekonomi kreatif untuk memperkenalkan produk lokal, terutama yang berkaitan dengan budaya dan kerajinan khas Banyumas. Dengan melibatkan komunitas seperti pelukis, pembuat film, hingga pengrajin, festival ini ikut berkontribusi pada penguatan sektor kreatif daerah.
Ajak Masyarakat Turut Meramaikan
Bagi masyarakat Banyumas dan sekitarnya, Banyumas Aesthetic Soetedja 2025 bukan sekadar tontonan, melainkan sebuah ajakan untuk turut serta dalam gerakan seni yang lebih luas. Setiap agenda dibuka untuk umum dan sebagian besar tanpa biaya masuk, sehingga siapa pun bisa menikmati dan belajar dari berbagai bentuk ekspresi seni.
Jangan lewatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari perayaan ini. Catat tanggal-tanggal pentingnya, ajak teman, keluarga, dan komunitasmu untuk hadir. Karena di setiap puisi, film, dan teater yang dipentaskan, terselip semangat khas Banyumas—sederhana, tulus, dan penuh warna.



