Tanggapan Balik Untuk Wamen Stella: Setiap Pejabat, ASN, TNI, Polri Mereka Berhutang Budi Kepada Rakyat

Saya tidak sedang membela mahasiswa penerima LPDP. Baik yang kuliah di dalam maupun luar negeri. Bukan kapasitas saya juga untuk membela. Mahasiswa penerima LPDP jauh lebih pandai membuat narasi pembanding dan pembelaan.

Wamen Diktisaintek Stella Christie menanggapi polemik postingan mahasiswa LPDP yang membuat gaduh soal ‘cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan’. Tanggapan Wamen Stella saya kutip dari detik.com.

Kontroversi alumni LPDP belakangan ini, menurut Stella, menunjukkan adanya kegagalan dalam pendidikan moral. Akhirnya ketika mendapatkan beasiswa, banyak oknum yang hanya menganggapnya fasilitas tanpa ada tanggung jawab di dalamnya.

“Kontroversi yang muncul belakangan ini pada dasarnya mencerminkan kegagalan pendidikan moral pada tahap awal kehidupan. Beasiswa tidak dipahami sebagai amanah, melainkan sekadar fasilitas. Di sinilah letak persoalannya,” lanjutnya

Baik, saya mencoba menggunakan kerangka berpikir Bu Wamen Stella ini untuk juga menganggapi hal serupa namun agak berbeda ruangnya. Dana LPDP bersumber dari APBN, dan APBN bersumber salah satunya pungutan pajak rakyat.

Kegagalan Moral Sejak Awal

Sama-sama bersumber dari uang negara, di mana salah satu sumber uang negara berasal dari pajak rakyatnya. Hanya saja penerimanya bukan LPDP, namun mereka para pejabat, aparatur sipil negara, para tentara, polisi dan pelayan publik lain.

Mahasiswa LPDP sekolah dibiayai negara. Mereka pejabat, aparatur sipil negara, para tentara, polisi digaji dan diberi fasilitas oleh negara. Pertanggungjawabannya sama. Kepada negara, kepada rakyat yang dipungut pajaknya. Dikumpulkan dari tukang ojek, tukang kayu, petani, nelayan, buruh, potongan royalti penulis dsb.

Meminjam kerangka berpikir Bu Wamen. Jika para pejabat, aparatur sipil negara, para tentara, polisi tidak menjalankan tugasnya dengan baik, hal itu menunjukkan adanya kegagalan dalam pendidikan moral. Akhirnya ketika menjadi pejabat, aparatur sipil negara, para tentara, polisi banyak oknum yang hanya menganggapnya fasilitas tanpa ada tanggung jawab di dalamnya.

Kita tahu, banyak kasus percaloan masuk ASN, TNI dan Polri. Kasus mencuat jika gagal dan ada korban penipuan. Padahal sebelum menjadi korban, mereka tahu langkahnya sudah salah sejak awal. Lalu, kualitas pelayan publik seperti apa yang kita harapkan dari praktik salah langkah tapi sadar dilakukan dalam menuju posisi-posisi tersebut?

Kekuasaan Imunitas Berpotensi Menumbuhkan Sikap Kebal Hukum

Kekuasaan yang berlebihan, serta imunitas sebagai pihak yang dilindungi kehormatannya melalui undang-undang yang berlebihan justru berpotensi menumbuhkan sikap mementingkan diri sendiri dan kolega: pejabat, aparatur sipil negara, para tentara, polisi menjadi kurang bersyukur kepada negara dan sibuk mencari celah untuk menghindari kewajiban.

Wamen Stella juga memberikan contoh diaspora untuk dijadikan teladan. Contoh-contoh baik ini perlu disorot Prof. Vivi Kashim di Tiongkok, Prof. Sastia Putri di Jepang, Prof. Haryadi di Amerika Serikat dan masih banyak lagi. Semoga kita terbuka bahwasanya memberi kembali kepada negara memiliki banyak bentuk,” imbuhnya.

Apakah perlu saya menuliskan siapa yang bisa jadi contoh untuk para pejabat, aparatur sipil negara, para tentara, polisi? Sepertinya tidak perlu. Sebenarnya mereka sudah tahu. Mereka putra-putri terbaik bangsa. Hanya saja kalau akhirnya nakal, entah mereka mencontoh siapa. Atau memang benar kata orang dahulu, “untuk jadi orang nakal, tidak perlu latihan”.

Menumbuhkan Rasa Kemanusiaan Pejabat, Aparatur Sipil Negara, Para Tentara, Polisi

Bu Wamen Stella membagikan tips bagi penerima beasiswa yang juga saya kutip dari detik.com.

Stella membagikan tips bagi penerima beasiswa negara agar memiliki rasa patriotisme. Salah satunya dengan fokus bermanfaat bagi individu-individu yang ada di Tanah Air.

“Pertama, bagi penerima beasiswa negara, fokuslah bagaimana Anda bisa bermanfaat bagi individu-individu di Indonesia, lebih dari untuk institusi yang abstrak. Fokus pada individu akan membuat Anda bernalar dengan lebih tajam,” jelasnya.

Bahasa Indonesia juga menjadi poin penting. Menurut Stella, menggunakan bahasa Indonesia ketika di luar negeri merupakan salah satu bentuk kebanggaan terhadap bangsa dan negara.

“Kedua, bagi para orang tua, baik yang tinggal di Indonesia maupun di luar negeri, gunakanlah bahasa Indonesia di rumah dan tanamkan kebanggaan berbahasa Indonesia kepada anak,” kata Stella.

Saya masih meminjam kerangka berpikir Bu Wamen, untuk membagikan tips kepada pejabat, aparatur sipil negara, para tentara, polisi agar memiliki rasa kemanusiaan. Salah satunya dengan fokus bermanfaat bagi masyarakat yang ada di Tanah Air. Minimal kepada yang di layani di depan mata.

Pertama, bagi pejabat, aparatur sipil negara, para tentara, polisi, fokuslah bagaimana Anda bisa bermanfaat bagi masyarakat, lebih dari untuk institusi yang jam 3 sore sudah tutup layanannya. Fokus pada kebermanfaatan untuk masyarakat akan membuat Anda bernalar, memiliki empati dan hati yang lebih tajam.

Bahasa kemanusiaan juga menjadi poin penting. Melayani dengan hati, dan sebagai sesama manusia merupakan salah satu bentuk kebanggaan terhadap seragam yang setiap benangnya ditenun dari pajak para buruh pabrik.

Kedua, bagi para orang tua, baik generasi kolonial maupun milenial, gunakanlah cara pandang kemanusiaan untuk mengarahkan putra-putrinya. Tanamkan kejujuran dalam meraih cita-cita dan tanamkan rasa kebanggaan jika menggunakan bahasa kemanusiaan jika ditakdirkan menjadi pelayan mewakili negara.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Fikri Kuncen

Editor in Chief bilfest.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *