Doa untuk Ibu Pekerja dari Tantri dan Kita Semua

Pertengahan bulan April 2026, kita diberikan kabar gembira. Undang-undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (UU PPRT) disahkan. Kabar baik ini tentu membuat tersenyum 4 hingga 4,2 juta orang yang menurut BPS dan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) adalah Pekerja Rumah Tangga (PRT) atau Asisten Rumah Tangga (ART).

Dari 4 sampai 4,2 juta di atas, pekerjaan tersebut didominasi oleh perempuan, dengan rasio 3:1. Yang artinya 75% adalah pekerja perempuan, termasuk yang sudah menjadi seorang ibu. Mereka bekerja di sektor nonformal -yang sangat wajar sekali jika Jaringan Nasional Advokasi Pekerja Rumah Tangga (Jala PRT) memperjuangkan ini selama 22 tahun.

Selang satu bulan kemudian, seorang penyanyi rock perempuan Indonesia, Tantri Syalindri -yang merupakan vokalis Band Kotak merilis single terbarunya, “Ibu Pekerja”. Lagu tersebut seolah menjadi penyemangat bagi para ibu yang sedang bekerja, baik di sektor formal, terlebih yang di nonformal.

Jika kita pahami perlahan liriknya, isinya adalah penguat bagi Tantri sendiri sebagai seorang ibu, yang merupakan pekerja di dunia entertainment. Termasuk pekerjaan sektor nonformal. Liriknya diawali dengan sebuah kesadaran bahwa untuk menjadi seorang ibu, tidak ada pendidikan khusunya. Menjadi seorang ibu ia jalani dengan naluri sebagai manusia, sebagaimana ibu-ibu yang lain.

Itulah hebatnya seorang ibu. Berangkat dari naluri sebagai manusia, dengan panduan cinta dan kasih sayang, ia merawat dan membesarkan anak-anaknya. Terlebih berat lagi jika seorang ibu harus memainkan peran ganda, sebagai pencari nafkah. Otomatis ada tenaga dan waktu yang harus dibagi. Antara mencari nafkah dan merawat anak-anaknya.

Perjuangan ganda tersebut tidak lantas mudah mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, dari keluarga, bahkan dari anaknya sendiri. Curahan hati Tantri dalam lirik lagunya bisa mewakili perasaan jutaan ibu pekerja.

Aku Kenyang Dianggap Tak Peka
Perjuangan Ibu Pekerja
Tutup Telinga Kuat Hati
Hei Anakku, Demi Masa Depanmu

Lagu “Ibu Pekerja” seolah penjembatan bagi ibu pekerja yang belum mampu menjelaskan kepada anak-anaknya. Pun bagi anak-anak yang mempunyai ibu pekerja, bisa menjadi jawaban atas pertanyaan yang tidak berani terucap, “kenapa mama jarang di rumah?”. Mungkin ada seorang ibu yang sebelum subuh sudah berpeluh di pasar. Bisa juga ada yang masih bertugas padahal anaknya sudah menunggu sampai tertidur pulas.

Perjuangan ibu pekerja bukan hanya untuk dirinya. Bahkan cenderung abai terhadap dirinya. Seperti lirik selanjutnya, ketika seorang ibu pekerja dianggap tidak peduli dengan anaknya karena tidak bisa memantau perkembangan anaknya. Tidak hadir saat momen berharga anak-anaknya. Semisal pentas seni di sekolah, saat ambil rapot atau saat wisuda.

Aku Rela Dianggap Tak Peka
Perjuangan Ibu Pekerja
Dia Menangis Dalam Doa
Hei Anakku
Dewasa Kau Kan Tahu

Teruntuk para ibu pekerja, semoga lelahmu akan terbayarkan dengan kebahagiaan di masa depan atas apa yang engkau perjuangkan. Atas doa-doa yang engkau panjatkan. Anak-anakmu kelak akan tahu, ini hanya soal waktu.

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Fikri Kuncen

Editor in Chief bilfest.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *