Setelah kami menghabiskan nasi padang yang dibeli lewat GoFood, saya dan Uda Alfi sambil udud jalan kaki ke rumahnya Pak Nasirun. Rumah Uda Alfi hanya selang beberapa rumah dengan Pak Nasirun di perumahan Bayeman. Mereka bertetangga. Saya lebih dahulu mengenal Uda Alfi daripada Pak Nasirun. Tentunya karena Uda Alfi lebih aktif di media sosial (Facebook), sedangkan Pak Nasirun tidak.
“Pak Nas biasanya jam segini lagi nyapu,” ucap Uda Alfi. Kami saat itu datang kira-kira pukul 11 siang, di awal tahun 2018.
Ternyata benar. Seorang yang berambut panjang dengan jenggot dikepang itu sedang menyapu halaman depan rumahnya, ia adalah Nasirun. Ia menyambut kami dengan terkekeh-kekeh. Tawa khasnya sampai sekarang tidak saya lupakan.
Kami lalu dipersilakan masuk ke rumahnya dan menuju teras belakang. Rumahnya penuh dengan lukisan dan barang-barang seni. Dari patung, gerabah, guci, hingga peralatan tani tradisional dan lesung panjang. Lukisan yang terpasang hampir mencapai plafon tidak hanya hasil lukisan Pak Nasirun. Ia juga mengoleksi lukisan sesama perupa atau lukisan gurunya.
“Jadi ini tidak semua saya yang nglukis. Ada yang teman datang bawa lukisan, butuh uang, ada juga guru saya, mau bayaran kuliah anaknya. Ya karena mereka lagi butuh, saya enggak tega, akhirnya ya lukisannya ditinggal di sini.”
Di meja panjang dengan banyak kursi, Pak Nasirun biasa menyambut tamu dan teman-temannya. Namun siang itu hanya ada saya dan Uda Alfi. Saya diperkenalkan ke Pak Nasirun. Saat itu saya sedang belajar menulis, dan sedang banyak belajar dari siapa saja.
Tidak terasa kami bertiga mengobrol sampai jam 1 siang. Di jam tersebut biasanya beliau tidur. Akhirnya kami berpamitan dan sebelum pulang, kami mengatur untuk bertemu lagi di lain waktu.
Pertemuan berikutnya masih di awal tahun 2018. Beberapa hari setelah pertemuan pertama. Namun pagi itu, Uda Alfi hanya bisa menemani sebentar. Selanjutnya saya sendiri yang ngobrol bersama Pak Nasirun.
Saya diajak ke rumah sampingnya. Sama-sama besar. Dan itu salah satu rumah beliau. Berisi penuh dengan lukisan koleksi Pak Nas dan benda-benda seni. Saya lalu bertanya, dengan polosnya, “Rumah sebesar ini hanya untuk memajang lukisan, Pak?”
“Mengko tak jawab, tapi kiye disit,” ia lalu menuju ke salah satu lukisan dan menurunkannya. Ternyata di balik lukisan ini ada amplop yang diplester. Ia ambil uang 2 lembar seratus ribuan. “Tukokna udud disit ya, ngerti mbok udude?” Rokok Pak Nasirun saat itu adalah Marlboro Black yang filternya bolong. Saya lalu keluar untuk beli rokok dengan uang dua ratus ribu itu. Tentu di antaranya adalah Djarum Super satu bungkus untuk saya. Hehehe.
Sekembalinya saya ke rumah Pak Nasirun, saya banyak mendapatkan cerita dari beliau tentang doa ibunya yang membuatnya bisa seperti ini. Ada sebuah lukisan yang bercerita tentang dahsyatnya doa ibu. Ia menceritakan dengan mata berkaca-kaca. Ruangan yang besar itu menjadi semakin sunyi. Seolah ingatannya kembali jauh ke masa tahun 80-an saat meninggalkan Cilacap menuju Yogya.
Kami lalu bergeser ke lukisan lain. Ia bercerita tentang lukisan yang ada di depan kami. Lukisan itu karya Mochtar Apin. “Ini karya luar biasa dari guru saya, Apin.” Menurutnya, diawali dari lukisan Mochtar Apin inilah akhirnya ia bisa seperti ini, selain belajar dari guru-gurunya yang di Yogya.
Lalu saya bertanya dengan pertanyaan yang polos, “Ini Pak Nasirun beli rumah dua sekaligus?”
“Tidak, awalnya rumah saya yang samping, tempat kita ngobrol tadi. Rumah ini saya beli belum lama, ya alhamdulillah, bisa saya duwe kaya kiye,” tawanya terkekeh-kekeh setelah tadi bercerita dengan sendu saat kami di depan lukisan doa ibu.
“Jadi ini bukan ruangan besar yang berisi lukisan. Namun sejatinya, lukisan-lukisan inilah yang membangun ruangannya sendiri, priwe filosofi mbok, wis kaya akademisi,” tawanya yang terkekeh-kekeh kembali terdengar. Menjeda kekaguman saya akan seni rupa, dan pencapaian sebuah doa dengan perjalanan panjang seorang Nasirun.
Ruang yang dimaksud Pak Nasirun adalah ruang yang memang berbentuk fisik (bangunan), sampai ruang dengan makna yang lebih luas. yaitu ruang dalam pemaknaan sebagai sebuah entitas multidimensi. Ruang yang mencakup sisi psikologis, sosial, budaya, dan kehidupan semesta manusia.
Pertemuan-pertemuan kami berikutnya di berbagai macam acara seni rupa dan diskusi di Yogya. Kadang juga bersama teman-teman lain di rumah beliau di teras belakang rumah. Ngobrol ngalor-ngidul tentang banyak hal.
Pertemuan terakhir saya dan Pak Nasirun saat beliau menjadi salah satu pengisi di Bisik Serayu Festival 2025. Beliau merespons coretan dan goresan para pengunjung Bisik Serayu Festival 2025 pada sebuah kain sepanjang 50-an meter. Selain itu, Pak Nas juga melukis seorang penari lengger di bentangan kain panjang itu.
Pak Nasirun. Matur nuwun.
===
Tulisan ini saya tulis spontan dan hanya mengandalkan ingatan dan beberapa catatan kecil yang masih tersimpan. Tulisan ini untuk mendoakan Pak Nasirun, yang sudah kapundut Gusti Allah pagi tadi Satu Kliwon, 1 Agustus 2026 dan dimakamkan di makam Seniman Girisapto, Tilamat, Wukirsari, Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Ygyakarta. Al-Fatihah.
*Uda Alfi memiliki nama lengkap Jumaldi Alfi. Kami biasa memanggilnya Uda karena beliau orang Minang.






