Bedah Buku Built On Lies: Sebuah Karya Sastra Yang Lahir Dari Sebuah Album Band KONN.

Sabtu, 8 Agustus 2026, sore hari Di Hetero Space Purwokerto sebuah dialog kritis telah mengukir jejak penting dalam peta budaya lokal. Di sana, diskursus tidak lagi sekadar soal estetika, melainkan bagaimana seni atau karya sastra menjadi instrumen perlawanan yang tajam terhadap realitas sosial yang rapuh. Di pusat debatan tersebut berdiri dua sosok ciamik, yakni: Pak Manunggal (Dosen Unsoed, pegiat sastra sekaligus mantan jurnalis senior) yang menjadi pemantik diskusi, serta Mas Agung, (vokalis band grindcore KONN.) yang juga penulis di balik nama pena Gagak Hitam. Pertemuan mereka bukan sekadar acara peluncuran buku, melainkan sebuah manifestasi nyata dari bagaimana musik ekstrem dan sastra fiksi kritis bisa bersatu padu untuk membongkar kebohongan sistemik, mematahkan elitisme intelektual, dan membangun ekosistem budaya mandiri yang lahir dari akar rumput.

Karya yang dibedah dalam sesi diskusi ini adalah novel yang berjudul “Built on Lies”, sebuah proyek ambisius yang ditulis oleh Mas Agung atau Gagak Hitam. Mas Agung tidak memiliki latar belakang formal sebagai akademisi sastra ia hanya seorang vokalis band dan ia juga merupakan seorang pekerja yang hidup di tengah hiruk-pikuk kota Purwokerto, yang memilih untuk menggunakan pena sebagai alat utamanya dalam menyuarakan keresahan kolektif.

Kelahiran novel “Built on Lies” bukanlah peristiwa yang terjadi dalam ruang hampa. Ia lahir dari sebuah momen di mana Mas Agung atau Gagak Hitam, menatap langsung ke dalam wajah realitas sosial yang menyakitkan. Ia menyaksikan gelombang aksi unjuk rasa dan demonstrasi besar-besaran yang mewarnai jalanan pada tahun sebelumnya, sebuah pemandangan yang mengungkap jurang pemisah yang lebar dan menyedihkan antara janji-janji manis otoritas dengan realitas pahit yang dirasakan oleh masyarakat sehari-hari. Keresahan mendalam atas ketimpangan tersebut kemudian mengkristal menjadi dorongan yang tak terbendung untuk mendokumentasikan momentum perlawanan itu ke dalam lembaran-lembaran. Namun, Mas Agung tidak menulis dengan cara yang konvensional. Ia menawarkan struktur konseptual yang sangat unik, di mana novel ini diadopsi secara langsung dari judul-judul lagu yang terdapat dalam album terbarunya. Melalui formula intertekstualitas ini, Mas Agung mencoba menciptakan ruang sinergis di mana pembaca tidak hanya membaca untaian kata, melainkan juga dapat merasakan ritme, progresi chord, dan distorsi emosi yang tertuang di dalam aransemen musiknya. Integrasi ini mempertegas status karya tersebut sebagai manifesto multidimensi, di mana suara gitar yang menderu dan teriakan vokalis yang pecah menjadi bagian tak terpisahkan dari teks yang dibaca, menciptakan pengalaman estetik yang utuh.

Dalam sesi diskusi yang begitu hangat di Hetero Space, Mas Agung mengurai argumen fundamental mengenai metode perjuangan yang ia pilih. Baginya, menulis adalah instrumen perlawanan yang paling organik. Menggunakan nama pena “Gagak Hitam”, ia menyelipkan sebuah filosofi mendalam yang sekaligus menjadi identitas dari seluruh karyanya. Nama tersebut terinspirasi dari karakter burung gagak yang secara biologis kerap memakan bangkai dan sisa-sisa entitas yang telah mati. “Gagak hitam itu memakan bangkai. Saya mencoba mengambil filosofi dari sisi itu. Bangkai adalah sesuatu yang bau, sesuatu yang telah mati dan membusuk. Di sini, saya mencoba menyerap hal-hal busuk dari kebijakan negara atau realitas sosial, lalu mencernanya dan melahirkannya kembali dalam bentuk karya,” ungkap Mas Agung secara gamblang pada saat sesi wawancara, matanya menyala dengan intensitas keyakinan. Lebih lanjut, ia menegaskan batas posisinya sebagai seorang kreator yang sadar akan keterbatasannya. Mas Agung menyadari sepenuhnya bahwa ia tidak memiliki kuasa untuk menggerakkan massa di barisan terdepan jalanan secara langsung, namun ia menolak untuk diam. “Saya hanya bisa menulis, maka biarkan tulisan ini menjadi bagian saya. Biarkan audiens, para pembaca, dan pendengar yang melawan dengan cara mereka masing-masing di luar sana,”  ujar Mas Agung.

Namun, jalan menuju terbitnya sebuah novel “Built on Lies” tidaklah mulus. Menyelesaikan sebuah novel sembari menjaga produktivitas musikal bukanlah perkara mudah, terutama bagi seseorang yang harus membagi waktu antara tanggung jawab formal dan panggilan jiwa. Gagak Hitam memaparkan tantangan terbesar dalam penyusunan buku ini adalah keterbatasan waktu yang sangat masif. Mengingat dirinya harus menjalani profesi formal dengan jam kerja yang padat dari pukul 07.00 pagi hingga 16.00 sore, sisa waktu malam diubahnya menjadi ruang kerja kreatif penulisan yang intensif. Sepanjang bulan April hingga menjelang tenggat waktu, ia konsisten terjaga hingga pukul 04.00 pagi demi merajut jalinan plot novelnya. Ritme hidup yang ekstrem ini mendatangkan kelelahan fisik dan mental yang luar biasa. Efek kelelahan tersebut sempat memicu kendala teknis penulisan, seperti hilangnya konsentrasi yang berakibat pada lupanya detail karakterisasi tokoh yang sedang dibangun. Kendati dihadapkan pada keterbatasan fisik dan ingatan yang terfragmentasi, komitmen untuk merampungkan target sebelum bulan Juli memaksanya untuk terus menyusun latar tempat, memperkuat penokohan, dan memetakan ke mana arah akhir cerita tersebut akan dibawa. Ini adalah bukti nyata bahwa perlawanan melalui tulisan seringkali dilakukan dalam keheningan malam, jauh dari sorotan lampu panggung, di mana kelelahan adalah musuh utama yang harus dikalahkan oleh tekad.

Di sinilah peran diskusi dan kehadiran para pemikir kritis menjadi sangat vital. Acara bedah buku dan diskusi sastra di Hetero Space Purwokerto, menjadi sebuah wadah di mana karya Mas Agung tidak hanya dipamerkan, tetapi juga diuji dan diapresiasi secara mendalam. Diskusi menjadi kian berbobot dengan hadirnya Pak Manunggal, (Dosen Unsoed, pegiat sastra sekaligus mantan jurnalis senior), sebagai pemantik diskusi utama. Dalam sesi wawancara mendalam seusai acara, beliau membagikan perspektif kritisnya mengenai bagaimana sebuah distorsi musik ekstrem mampu bertransformasi secara elegan ke dalam medium literasi yang matang. Menurut pandangan Pak Manunggal, karya yang dilahirkan oleh Gagak Hitam merupakan sebuah gebrakan yang luar biasa, bahkan Pak Manunggal ini sampai menyebut Mas Agung ini “gemblung” karena bisa melahirkan sebuah karya sastra yang bukan main. Secara karakteristik teknis, musik genre grindcore umumnya dikenal dengan lirik-lirik yang sangat pendek, lugas, bahkan terkadang abstrak untuk dipahami secara konvensional dalam sekali dengar. Namun, Mas Agung berhasil membalikkan stigma tersebut dengan menuangkan narasi kritik yang tebal ke dalam format buku fiksi ilmiah-kritis.

“Ini adalah karya yang benar-benar nampol, straight to the point, dengan gaya bahasa yang dikemas sangat oke. Saya pribadi cukup jarang terpesona oleh tulisan orang lain karena kebetulan saya juga menulis sastra. Namun untuk karya pertama dari seorang vokalis musik ekstrem, kejujuran narasi di buku ini benar-benar memikat,” ujar Pak Manunggal dengan antusiasme yang tergambar jelas. Ia mengakui bahwa sebagai seseorang yang juga menekuni dunia kepenulisan sastra, ia jarang terpesona oleh tulisan orang lain. Namun, kejujuran narasi yang terpancar dari buku karya seorang vokalis musik ekstrem ini berhasil memikatnya. Hal yang lebih memukau publik adalah latar belakang Mas Agung yang bukan merupakan akademisi sastra formal. Fenomena ini, bagi Pak Manunggal, mematahkan batasan elitisme dunia kepenulisan. Beliau menggarisbawahi bahwa untuk melahirkan karya seni dan sastra yang hebat, seseorang tidak harus terikat pada sekat-sekat institusi seni formal seperti ISI atau program studi sastra murni. Sebaliknya, realitas di lapangan sering kali memperlihatkan bahwa akademisi yang terlalu dipadati oleh teori formal justru mengalami hambatan psikologis untuk mulai menulis karena ketakutan akan aturan struktural. Kebebasan yang ditunjukkan oleh Mas Agung menjadi antitesis yang menyegarkan di kancah literasi lokal. Mereka membuktikan bahwa pengalaman hidup langsung di lapangan, interaksi dengan realitas sosial yang keras, dan kebebasan berekspresi tanpa beban institusi adalah bahan bakar utama yang menghasilkan karya yang otentik dan relevan. “Untuk melahirkan karya seni dan sastra yang hebat, seseorang tidak harus terikat pada sekat-sekat institusi seni formal,” tegas Pak Manunggal.

Buku dan album “Built on Lies” ini menyuarakan kritik mendalam terhadap metafora kebohongan sistemik, kedaulatan, serta jaminan kesejahteraan rakyat yang kerap terabaikan. Pak Manunggal memandang perpaduan ini sebagai fenomena kolektif yang langka di Indonesia. Momentum perilisan buku fiksi bersamaan dengan album musik membuktikan bahwa ekosistem kesenian independen di Banyumas memiliki daya hidup yang mandiri dan eksplosif. Gerakan ini murni bergerak secara akar rumput dan berbasis komunitas (D.I.Y), tetap berjalan tegak memproduksi karya-karya bermutu tinggi tanpa ketergantungan pada sokongan institusi formal maupun birokrasi Dewan Kesenian setempat. “Esensi seni itu pada dasarnya adalah saling menyapa. Musik menyapa sastra, sastra merekam dinamika lingkungan. Dan kita berhasil mewujudkan ekosistem yang saling menghidupkan tersebut,” tegas beliau.

Estafet literasi ini menunjukkan bahwa gerakan akar rumput di Banyumas sedang mengalami transformasi yang menarik. Meskipun rekan-rekan musisi di sekelilingnya saat ini masih cenderung memusatkan fokus pada eksplorasi aransemen auditori, Gagak Hitam melihat adanya potensi besar bagi perkembangan gerakan literasi berbasis musik di masa mendatang. Ia percaya bahwa perlawanan tidak pernah memiliki bentuk yang tunggal. Melalui guratan pena Gagak Hitam, kita diajak melihat bahwa di tengah keterbatasan fisik, kelelahan jam kerja formal, dan kebisingan distorsi musik, literasi tetap mampu berdiri tegak sebagai benteng pertahanan ingatan yang kokoh dan menolak untuk tunduk pada narasi-narasi besar yang penuh kepalsuan.

Menutup sesi wawancara yang berlangsung hangat di Hetero Space, Pak Manunggal, yang juga mengampu mata kuliah Hukum Pers, menyampaikan pesan mendalam bahwa di era digital saat ini, di mana setiap individu memiliki akses untuk menyebarkan informasi melalui kanal mandiri, kehadiran pers profesional tetap memegang peran yang sangat krusial. Media massa, menurut Pak Manunggal, berfungsi sebagai jembatan amplifikasi yang vital bagi gerakan kultural seperti “Built on Lies”. Tanpa liputan yang memadai dari media profesional, karya-karya hebat yang lahir dari komunitas kecil berisiko tenggelam dan tidak sampai ke khalayak yang lebih luas. Dukungan media terhadap pergerakan seni lokal atau yang sering disebut dengan slogan support your local scene, bukan sekadar bentuk peliputan biasa. Ini adalah upaya bersama untuk merawat akal sehat dan memperhalus rasa kemanusiaan di tengah situasi sosial yang semakin mekanis dan individualis.

Pesan ini menjadi pengingat akan tanggung jawab besar yang diemban. Meliput gerakan seni lokal seperti “Built on Lies” adalah bentuk partisipasi dalam menjaga keberagaman ekspresi budaya dan memastikan bahwa suara-suara dari pinggiran tetap terdengar di tengah hiruk-pikuk arus informasi global. Kehadiran proyek “Built on Lies” dan diskusi yang menyertainya di Hetero Space Purwokerto menandai babak baru dalam sejarah budaya Banyumas. Ini adalah bukti bahwa kreativitas tidak mengenal batas profesi, latar belakang pendidikan, atau status sosial. Ia adalah aliran energi yang bebas, yang siap meledak kapan saja ketika ada ruang yang terbuka. Acara ini mengingatkan kita semua bahwa seni dan sastra adalah cermin realitas. Ketika realitasnya keras dan penuh distorsi, maka seni yang lahir darinya pun akan memiliki karakter yang kuat dan tak kenal kompromi. Namun, di balik kerasnya distorsi grindcore dan tajamnya kritik sastra, tersimpan sebuah harapan yang begitu besar akan perubahan

Share sekarang, pahala belakangan!
Avatar photo

Mahin Al Hasan

Mahin Al Hasan, mahasiswa semester akhir asal Cilacap Barat, saat ini mengemban amanah sebagai Ketua Umum UKM KSiK UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Ia dikenal sebagai sosok yang aktif membaca buku, menikmati musik, serta memiliki ketertarikan mendalam dalam mengamati berbagai polemik kehidupan dan dinamika sosial-politik di Indonesia. Melalui perannya di organisasi, Mahin terus berupaya mengasah kepekaan intelektual dan memperluas wawasan untuk berkontribusi bagi kemajuan masyarakat dan bangsa. Bisa disapa melalui Instagram @mahinalhasann.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *