BANYUMAS. Rumah Cibun bersama Sthanaluhur Indonesia sukses menyelenggarakan perhelatan budaya “Nyore Sandikala | Twilight Dinner #3: Kenduren Budaya Dukuh Tjiboen” pada Sabtu, 8 Agustus 2026. Berlangsung di Rumah Cibun, Dukuh Tjiboen, Desa Sunyalangu, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas, acara yang dihadiri oleh puluhan peserta ini berhasil menyajikan pengalaman kebudayaan yang intim, bernilai sejarah, dan berkesan.
Mengusung konsep penjelajahan rasa, seni, dan refleksi tradisi, para tamu diajak merasakan atmosfer eksotis kawasan eks-Perdikan Pasir Luhur. Rangkaian acara diawali dengan prosesi Ngunduh Dayoh, di mana para peserta menyusuri jembatan gantung di atas Sungai Logawa, disambut penyucian diri (Bilas Patirtan), busana adat (Rangkep Wastra & Iket Janur), serta sajian kuliner tradisional khas perbukitan seperti Cimplung Dawegan dan Rujakan Gunung.
Gelar Seni, Rembug Budaya, dan Kuliner Langka
Dalam sesi Slametan nDuren, peserta menikmati kelezatan durian lokal lereng Gunung Slamet yang otentik dan organik dari pohon berusia ratusan tahun, diiringi aksi Natural Live Art Painting oleh dua pelukis lingkar Gunung Slamet, Alik Setyawan, S.Sn. (Bumiayu) dan Iwang Nirwana (Pemalang).
Ruang diskusi kebudayaan menjadi semakin hangat melalui sesi Rembug Budaya bertajuk “Tradisi: Quo Vadis Pewarisan Nilai dan Orientasi Jatidiri?”. Dipandu oleh Dr. ENHA (Founder amania.id & Wakil Dekan FT Unsoed) selaku Juru Rembug, Sesi ini menghadirkan dialog interaktif serta pandangan kritis dari berbagai sudut pandang. Sesi ini mempertemukan Maestro Lengger Lanang sekaligus Ketua Komite Ekonomi Kreatif Banyumas Rianto, pelestari Macapat Babad Pasir Luhur Puji Irawan, serta Kang Nasirun, seorang penulis yang selama ini meneliti Babad Banyumas . Para narasumber bersama-sama membedah dinamika pewarisan nilai tradisi di tengah tantangan zaman modern.
Memasuki senja, para tamu menikmati santap malam istimewa “Tjiboen Twilight Dinner”. Sesi ini menyajikan ragam hidangan warisan tua masyarakat lereng Gunung Slamet yang langka, seperti Ayam Burus, Ceplok Bebek Sangan, Jangan Pakis Kecombrang, Umbut Warak Bumbu Kuning, Sega Tutu, hingga Clebek Petjokol (kopi tradisional yang disangrai dan ditutu di alu-lumpang kayu).
Lantunan Kidung Pusaka Penutup Perhelatan
Sebagai penutup, suasana malam Dukuh Tjiboen dibalut dengan syahdu lewat alunan Seruling Selalot Kidung Rahayu oleh musisi Rahman Khan, dilanjutkan dengan pertunjukan Kidungan Agung Macapat Babad Pasir Luhur. Mantra dan kidung tua warisan legenda Kamandaka tersebut dilantunkan secara langsung oleh para kasepuhan dan pemuda Dukuh Tjiboen sebagai bentuk nyata penjenamaan dan pelestarian warisan budaya takbenda.
Inisiatif perhelatan ini digagas oleh Rumah Cibun berkolaborasi dengan Sthanaluhur Indonesia, sebuah gerakan kebudayaan yang konsisten merawat ruang-ruang tradisi dan kearifan lokal di wilayah eks-Perdikan Pasir Luhur, Dukuh Tjiboen, Desa Sunyalangu, Karanglewas, Banyumas. Penyelenggara menyampaikan apresiasi serta ucapan terima kasih setinggi-tingginya kepada seluruh narasumber, akademisi, praktisi seni, tokoh masyarakat, jajaran pemerintah daerah dan desa, jaringan media, serta seluruh relawan yang telah bergotong royong menyukseskan perhelatan kebudayaan ini.



