Beberapa tahun lalu, mengenai perbincangan drama Asia tentunya pikiran kita akan tertuju pada satu titik: Korea Selatan. Adanya gelombang Hallyu yang begitu kuat menyapu Indonesia sehingga “Drakor” menjadi istilah yang sangat keren dalam berbagai seri di Asia. Coba perhatikan dalam kolom trending di platform streaming seperti iQIYI, WeTV, ataupun Netflix, ada kekuatan besar yang menyalip. Ya betul, kita sedang membicarakan soal Drama China (Dracin).
Dulu, Dracin mungkin lebih spesifik dengan film silat (wuxia) yang sering ditonton kakek-nenek kita atau drama romance yang dianggap kaku dengan efek CGI-nya. Tetapi kini Dracin menjadi sebuah gaya hidup. Anak muda mulai candu karena terpesona dengan visualnya hingga rela begadang demi menamatkan puluhan episode. Mengapa tren ini begitu meledak hingga saat ini?
Visual yang “Gak Ada Obat”
Visual adalah salah satu alasan anak muda mudah jatuh cinta pada Dracin karena keestetikannya. Dalam genre Modern Romance, banyak sekali disuguhi gaya hidup yang sangat mewah serta keestetikan dari kostum maupun lokasinya yang sangat memanjakan mata. Belum lagi visual pemerannya yang memiliki standar ketampanan atau kecantikan yang unik seperti mirip dengan karakter anime. Detail kostum, perhiasan rambut, lokasi yang tidak main-main sangat memanjakan para penontonnya. Hal ini membuat penonton sampai berusaha mengunduh TikTok Cina (Douyin) agar dapat melihat idolanya.
Cerita Ringan menjadi Obat Healing dari Penatnya Dunia
Belakangan ini Drakor semakin banyak mengambil isu-isu berat seperti thriller psikologis, pembunuhan, ataupun politik yang rumit. Dracin justru lebih tertuju pada rasa “kenyamanan”. Dracin sangat populer dengan mengusung tema romance atau digabung dengan fantasi, misalnya Istri Kesayangan Mafia, Istriku Tiga Takdirku Gila. Di tengah banyaknya tugas kuliah sebagai anak muda, tentunya saya sendiri membutuhkan tempat yang membuat kita merasa nyaman tanpa tekanan ataupun depresi, membuat saya menjadikan Dracin tempat pelarian yang manis, membuat saya tersenyum sendiri sebelum tidur.
Kuatnya Algoritma TikTok dan Budaya Clip Watching
Tentunya kita tidak bisa melupakan peran media sosial dalam percepatan berbagai tren. Strategi pemasarannya pun sangat adaptif dengan perilaku Gen Z saat ini, yang berisi cuplikan-cuplikan berdurasi pendek sekitar 30 detik berisi adegan paling romantis, lucu, atau yang sering berseliweran di FYP TikTok dan Reels.
Terkadang kita berhenti sejenak untuk menonton cuplikan tersebut dan tentunya membuat algoritma terus mengirimkan konten serupa. Saya sendiri mengalaminya; berawal dari cuma iseng menonton, akhirnya merasa penasaran, kemudian mencari aplikasi streaming demi dapat menonton dalam versi lengkapnya.
Durasi yang Panjang Membangun Kedekatan Emosional
Uniknya, Dracin memiliki jumlah episode lebih banyak dibandingkan drama lain (bisa 40–100 episode). Bagi penggemar Dracin seperti saya, itu bukan merupakan beban, melainkan kebahagiaan. Dengan durasi panjangnya membuat saya merasa benar-benar hidup dan merasa tumbuh bersama dengan karakter-karakter tersebut. Di sini kita melihat perkembangan dari nol dengan banyaknya konflik, lalu bagaimana mereka jatuh bangun hingga akhirnya mencapai kebahagiaan. Inilah yang membuat terbangunnya perasaan emosional yang kuat dan membuat penonton mengalami fenomena post-drama depression (membuat penonton sulit berpindah ke judul lain).
Loyalitas Fandom
Tidak bisa dipungkiri, pesona aktor dan aktris papan atas Tiongkok memiliki daya tarik yang kuat, seperti Dylan Wang, Bai Lu, Zhao Lusi, Ma Xiaoyu, Zhang Linghe, dan Chen Si.
Banyak sekali anak muda Indonesia kini membuat komunitas atau fandom solid di media sosial. Mereka membuat konten edit video atau mengklip video terbaru dari media sosial Tiongkok lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Adapun banyak anak muda Indonesia mengunduh aplikasi TikTok China (Douyin) hanya untuk melihat idola mereka, melihat live langsung, serta mengklip videonya untuk dijadikan konten di media sosial, sehingga membuat ekosistem Dracin di Indonesia tetap hidup dan membuat banyak orang terus bergabung di arus tren ini.
Pergeseran Budaya
Fenomena Dracin ini membawa dampak ekonomi yang nyata. Banyak anak muda yang kini mulai melirik tren kecantikan Tiongkok. Mereka mulai berhias ala-ala “Douyin” yang sering tampil di berbagai drama-drama populer yang mulai banyak diikuti oleh beauty influencer lokal. Dan mulai munculnya produk-produk kosmetik yang membanjiri pasar e-commerce. Ini membuktikan drama bukan hanya sebuah hiburan atau tontonan, tetapi juga membawa dampak budaya serta gaya hidup yang efektif, sehingga membuat produk kecantikan Tiongkok lebih digemari daripada produk lokal.
Fenomena Dracin ini menjadi bukti bahwa selera hiburan anak muda tidak lagi hanya terpaku pada satu kiblat saja. Dracin berhasil mengisi berbagai celah yang mungkin tidak pernah ditayangkan oleh drama dalam genrenya. Dracin memberikan hiburan dengan visualnya yang indah, ceritanya yang ringan, dan karakternya yang sangat memberikan kesan emosional. Dulu Dracin hanya dipandang sebelah mata, tetapi kini telah membuktikan dirinya dalam industri hiburan Asia. Jadi buat teman-teman, terutama Gen Z yang belum menonton, saya sarankan untuk mencobanya karena di situ kalian akan merasa menemukan sebuah rasa kebahagiaan atau dunia yang baru dengan penuh kenyamanan.





