Di Republik Mlaraki ini, tidak ada yang namanya jalanan berlubang, jalanan retak, apalagi jalanan amblas. Di sana, jalannya sangat mulus, sehingga setiap ada orang luar bertandang, mereka sibuk memuji, “Waw, sungguh indah, ini adalah jalanan kelas dunia.” Namun, bagi warga lokal, jalanan kelas dunia itu malah setiap hari membuat malapetaka. Jalanannya memang bagus, mengkilap seperti kaca, bila matahari mengintip, cahayanya malah memantul.
Sayang seribu sayang, jalanan itu sering kali atau bahkan setiap hari memakan korban. Setiap warga yang melangkahkan kakinya pada jalanan itu, sudah pasti ia akan terpeleset. Oh iya, perkenalkan namaku Glodok Mlethik, nama yang tidak gaul, orangnya juga tak pintar, tak suka juga membaca buku, sudah jelas tidak pantas jadi presiden apalagi wakil presiden. Tapi jangan salah, berkat nama ini aku bisa memiliki gaji setiap bulannya, sehingga bisa menyambung kehidupan istri dan anakku. Aku bekerja menjadi petugas jalanan, pekerjaan yang cukup mudah, tidak ditugaskan untuk membenahi jalanan, apalagi memperbaiki. Namun, hanya ditugaskan untuk memasang dan menjaga papan peringatan yang bertuliskan: “Hati-Hati, Jalanan Ini Licin!”
Tulisan itu sudah dicetak dari pusat, jadi aku tinggal tancapkan pada titik yang diperintahkan. Katanya tulisan itu tidak boleh diganti apalagi diubah sendiri. Bila dilihat memakai akal nalar, papan peringatan itu memang lebih jujur dibandingkan dengan pidato presiden kala itu, yang menyatakan bahwa jalan yang beliau bangun adalah jalanan terbaik dan membuat warganya bahagia.
Setiap matahari terbit, artinya aku harus berangkat bekerja, memakai seragam hijau kesayangan. Tidak lupa, istriku juga selalu berpesan, “Mas, hati-hati ya, jalanannya licin.” Aku jawab sembari memakai sepatu kulitku, “Yang licin bukan jalanannya, Dek, tapi pemerintahannya.” Presiden Republik Mlaraki bernama Pramono Srimpetno. Warga Mlaraki mengenal beliau sebagai pemimpin dengan suara empuk seperti dodol pernikahan.
“Di Republik ini, tidak ada penindasan. Rakyat harus selalu bahagia dan berhati-hati, karena negara sudah menyediakan jalan kelas dunia,” ucap Pram. Di sampingnya ada Bagas Glundung, wakilnya yang selalu setia mendampingi, suka senyum seperti orang yang tak pernah terpeleset namun tidak suka membaca. Di setiap Pram berpidato, para menteri duduk berbaris rapi. Yang paling tersorot adalah Menteri Klarifikasi, namanya Wiro Lurusno. Jadi, setiap ada warga yang terpeleset, Wiro selalu muncul, “Tenang, ini tidak mencekam, hanya kelalaian pribadi.” Aku sudah hafal dengan kalimat itu, seperti halnya aku hafal Sumpah Pemuda.
Sudah dua tahun aku bertugas di jalanan. Jalanan yang aku jaga bernama Jalan Orba Abadi, namanya sangat gagah, jalanan paling licin di Republik ini. Seperti sengaja dilapisi minyak sawit sebanyak-banyaknya secara diam-diam pada malam hari. Setiap hari, ada saja yang terpeleset di sana, ada yang hanya tergelincir, ada pula yang sampai harus digotong. Salah satunya adalah Bu Sekar Kapurwanti, ia guru honorer yang saat itu membawa map penilaian. Saat ia terjatuh tepat di hadapanku, mapnya buyar dan berserakan. Bu Sekar melihat aku dengan wajah yang sedikit malu, “Saya salah ya, Pak?” Aku ingin menjawab tidak, namun yang keluar malah, “Duh, lebih hati-hati lagi Bu Sekar.” Di SOP diperintahkan seperti itu.
Malam itu, saat aku baru sampai di rumah, terdengar berita: “Guru Terpeleset, Akibat Kurang Berhati-hati,” kata si pembawa berita. Ia tidak menyebutkan nama jalanannya. Sebenarnya aku kesal mendengar hal itu, tapi lebih kesal lagi karena hal itu tidak boleh diceritakan apalagi dilaporkan, itu akan menjadi sia-sia. Setelahnya, kejadian yang sama terjadi, sehingga semua warga terbiasa. Ada Pak Diol, perawat IGD yang terpeleset di Jalan Kesehatan Nusantara; ada pula Lik Alex, pegawai pajak yang tergelincir di Jalan Patuh Pajak; hingga Mbak Kinasih, seorang staf khusus pemerintahan, ambruk di Jalan Kebijakan dan perlu dirawat inap.
Sampai di suatu siang, Jalan Orba Abadi tidak hanya penuh dengan papan peringatan, jalanan itu penuh dengan suara, artinya negara sedang tidak baik-baik saja. Sekelompok mahasiswa bertandang, almamater yang dipakai bermacam-macam warnanya, tulisan yang dibawanya pun tak rapi, mereka datang dari paguyuban mahasiswa Tapak Waras. Mataku langsung memandang pada salah seorang dari mereka yang teriakannya paling lantang, aku mengira ia adalah ketua paguyuban itu. Namanya Jalu Mbrontak Santoso. Jalu ini mahasiswa Universitas Kemelekan, berambut gondrong, badan yang cukup kurus, namun cara bicaranya ceplas-ceplos seperti preman pasar.
Di tengah riuhnya teriakan massa, Jalu berjalan menghampiri aku. “Pak, Anda yang memasang papan peringatan ini?” ucapnya. “Iya, bagaimana?” jawabku. Tepat di hadapanku, Jalu mengelus papan peringatan itu sembari berkata, “Oh papan, dirimu sangat pintar, kau tahu bahwa jalanan ini licin. Namun sayang sekali, tidak engkau bersihkan sekalian.” Aku yang merasa tersindir hanya bisa tertawa dan berkata, “Tugasku hanya berjaga dan memberi peringatan saja, Nak.” Jalu segera menimpali, “Lalu, apakah tugasku terpeleset setiap hari, Pak?” Guyonannya polos, namun hatiku terasa tersayat sedikit.
Jalu berjalan meninggalkan aku menuju pinggiran jalan dan memulai orasi. “Wahai warga Republik Mlaraki sekalian, Jalu ingin bertanya. Bila ada seorang terpeleset, mungkin ia ceroboh. Namun, bila semua orang terpeleset di satu tempat yang sama, apakah mereka semua ceroboh?” Teriakan Jalu menggema, membuat orang-orang yang berlalu-lalang memilih berhenti sejenak. Beberapa orang memilih untuk menertawakan, beberapa hanya memandangi, dan beberapa memilih merenungi. Spanduk yang Jalu bawa saat orasi sungguh jelek, tertulis di spanduk itu: “Jalanan Ini yang Licin, Bukan Kaki Pejalannya”.
Setelah Jalu berorasi, akhirnya aku memberanikan diri untuk mendekat, “Namamu Jalu Mbrontak Santoso? Hati-hati ya, bila kamu terpeleset di sini, yang disalahkan bukan jalanan ini, tapi diri kamu sendiri.” Jalu menyeringai, “Pak, aku ini sudah biasa terpeleset dari lahir. Jadi, aku rasa mending terpeleset sembari berkata benar, daripada diam seribu bahasa tapi terpeleset juga.” Aku hanya terdiam dan tidak bisa membantah. Apa yang dikatakan Jalu benar juga.
Sore itu Jalan Orba Abadi masih begitu ramai. Polisi mengepung, wartawan datang. Presiden? Mengeluarkan jurus pahlawan kesiangan, “Apa yang dilakukan oleh teman-teman mahasiswa patut diapresiasi, pemerintah sangat menghargai aspirasi mereka,” ucapnya. Wakil Presiden juga tak mau kalah eksis, ia menambahkan, “Gelar aksi boleh saja, asal tidak mengganggu ketertiban.” Dan seperti biasa, Menteri Klarifikasi berbicara paling akhir, “Tenang, ini tidak mencekam. Yang jelas, tidak ada jalanan bermasalah di Republik Mlaraki ini.”
Setelah malam itu, Jalu Mbrontak Santoso tidak lagi pulang ke rumahnya, ponselnya pula tidak aktif, spanduk yang kemarin ia bawa juga ikut tertelan bersamaan. Keesokan harinya, dalam suatu berita dinyatakan bahwa: “Aksi Mahasiswa Berakhir Damai.”
Namun, mahasiswa bernama Jalu hilang entah ke mana, di kampus katanya cuti akademik. Namun, di warung kopi langganannya, orang-orang berbisik lirih, “Bung Mbrontak ditangkap, namanya diganti.” Aku masih melanjutkan pekerjaanku, masih memasang papan peringatan itu. Namun, setiap memasang papan itu, telingaku riuh dengan suara lantang Jalu, “Apakah tugasku terpeleset setiap hari, Pak?”
Pada bulan setelahnya, kabar datang seperti angin yang tertiup kencang, Jalu Mbrontak Santoso menghembuskan napas terakhirnya di kamar berjeruji besi. Katanya, terpeleset saat hendak ke kamar mandi. Menteri Klarifikasi kembali muncul, “Pemerintah turut berbelasungkawa,” ucapnya, namun disambung, “Ini murni musibah, tidak ada kaitannya dengan apa pun, apalagi jalan.” Setelah pernyataan itu keluar, tidak ada protes, tidak ada aksi keadilan. Rasanya, warga Republik Mlaraki sudah lelah terpeleset setiap harinya.
Setelah kepergian Jalu, warga Republik Mlaraki meneruskan kehidupannya masing-masing. Mereka memilih untuk berjalan lebih cepat, menundukkan kepala, dan memilih diam seribu bahasa. Dan aku masih bekerja menjadi petugas jalan, memasang papan peringatan. Tulisannya masih saja sama. Namun, setiap menancapkannya, entah dari mana rasa itu, rasanya aku sedang menancapkan nisan.
Di satu hari, hal apes memelukku. Aku terpeleset di jalanan yang aku jaga setiap harinya. Namun tidak parah. Yang membuat parah adalah adanya jepretan kamera milik pemerintah. Setelah terpeleset itu, bukannya ditolong dengan cepat, malah berita terpelesetku yang menyebar dan jumlah penontonnya naik pesat: “Petugas Tidak Berhati-Hati Saat Menjalankan Tugasnya.”
Setelah berita itu naik, surat pemecatan menghampiriku, aku dipecat. Namaku ditulis seenaknya dan tidak dianggap penting lagi. Suatu hari, sebelum aku pulang di hari terakhirku bekerja, aku menulis menggunakan spidol di papan yang belum terpasang:
“Hey Republik Mlaraki, Jalanannya yang Kau Perbaiki, Atau Presidennya yang Kau Ganti!!!”
Belum seharian papan itu tertancap, ia sudah dicopot. Mungkin beberapa orang yang berlalu-lalang sudah membacanya. Setelah aku benar-benar dirumahkan, aku menjadi buruh harian lepas. Aku mengira Republik ini akan berbenah. Namun hingga saat ini, di Republik Mlaraki, jalanan tetap saja licin. Pemerintah hobi sekali mengesahkan kebijakan yang mlaraki. Setiap kali ada yang berani bersuara, biasanya tidak lama ceritanya, satu atau dua hari raganya hilang seperti dilahap buaya. Bagaimana dengan almarhum Jalu? Namanya terus dirapalkan di mana-mana, diingat oleh orang-orang yang pernah terpeleset dan bernasib sama.
Duh Gusti, semoga jalan di negaraku tidak hanya mulus, namun juga tidak mlaraki rakyatnya. Dan bila masih ada yang terpeleset karenanya, semoga tidak langsung dihakimi dan disalahkan kakinya.
Tamat.
Mlaraki: sesuatu yang bisa menyebabkan terpeleset / licin (red)






suka banget, bahasanya keren👍👍
good for u! always proud!
gilakk vibes e kek negeri para bedebah
Contoh negara tidak memperdulikan rakyatnya, miris sekali. semoga di republik Mlaraki kedepan mempunyai pemimpin yg punya hati.