Matahari pas di tengah ubun-ubun warga Purwokerto, saat kami menerima “surat dari penjara”. Surat itu ditulis oleh 3 Remaja Purwokerto yang menjadi korban kriminalisasi pasca demo Agustus-September 2025 di Alun-alun Purwokerto. “Surat dari penjara” itu kami terima melalui pendamping hukum, Agusta Awali Amruloh, S.H melalui pesan WhastApp.
“Surat dari penjara” itu berlampirkan foto dan video mereka bertiga. Alhamdulillah, mereka dalam keadaan sehat.
Mereka beritga menuliskan:
Kepada para pendukung, sahabat, dan seluruh masyarakat yang masih percaya pada nurani: terima kasih.
Dukungan kalian adalah pengingat bahwa keadilan mungkin ditunda, tetapi tidak pernah benar-benar mati. Saya berdiri tegak karena kalian berdiri bersama saya.
Namun percayalah, perjuangan ini tidak sia-sia. Sejarah selalu mencatat bahwa keadilan tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari keberanian orang-orang yang menolak diam. Jangan lelah bersuara, jangan takut berdiri di sisi yang benar, dan jangan biarkan ketidakadilan menjadi hal yang dinormalisasi.
Semakin ditekan, semakin melawan.
Lapas Purwokerto,
30 Januari 2026.
Ibnu Jafar, Kusuma Andhika, Roma

***
Beberapa saat yang lalu, tim redaksi sempat berdiskusi dengan penasehat hukum mereka bertiga. Mas Tata, sapaan akrabnya mengatakan tentang perjuangan mengawal kasus ini harus terus ada. Sekecil apapun dukungan sangat kami harapkan dan kami sangat berterima kasih. Tentu saja perjuangan seperti ini ada titik lelah dan jenuhnya. Oleh karena itu, masukan dari teman-teman aktivis dan organisasi, sangat kami harapkan.
Selain itu ada ketakutan, jika nanti ada intimidasi dan hal-hal yang membuat tidak tenang, penasehat hukum tidak akan tutup mata. “Yang saya backup tidak hanya mereka bertiga, tapi para aktivis yang masih terus berjuang mengawal kasus ini. Kalau ini dibiarkan, khawatir kedepan, jika ada aksi, pihak keamanan akan semena-mena terhadap demonstran. Baik itu kepada mahasiswa ataupun masyarakat umum”, ujar advokat yang masuk jaringan LBH Yogyakarta YLBHI ini.
***
Jika membaca isi “Surat dari penjara”, dan melihat wajah mereka, tentu perjuangan kita yang di luar tidak ada apa-apanya. Jika mereka bertiga saja kuat, kita yang di luar harus lebih kuat. Jika mereka bertiga saja di dalam tetap tegar, kita yang di luar, perjuangan jangan sampai buyar.
Yang dipenjara ada 3, tapi perjuangan di luar, berlipat ganda. A Luta Continua!





One thought on “Dari Dalam Penjara Suara 3 Remaja Purwokerto yang Dikriminalisasi Semakin Keras”